Makalah Hubungan Ilmu kalamdengan filsafat dan tasawuf



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Dalam melakukan pendekatan dan pengenalan seseorang terhadap kebenaran, orang melalui beberapa langkah dan tahapan yang tidak sama. Walaupun jalan yang ditenpuh berbeda namun tujuannya adalah satu, yaitu menetramkan batin dalam mencapai sesuatu kebenaran. Begitu pula halnya dengan pendekatan dan peneganalan seseorang terhadap Khaliq-nya, banyak dan beraneka ragam dan beraneka cara yang dapat dilakukan demi mencari suatu kebenaran. Kalangan Sufi misalnya, tidak merasa puas dengan pendekatan diri kepada Allah melalui ibadah shalat, puasa dan haji saja. Mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan Allah dengan menempuh jalan tasawuf atau sufisme. Lain halnya dengan seorang filosof, dalam usaha pencarian kebenaran yang ditempuhnya lebih mengutamakan rasio yang diawali dengan sikap skeptis dan keragu-raguan akan sesuatu. Bagi kalangan Mutakkalimin, akan menggunakandalil naql dan aql guna menguji kebenaran sesuatu. Dalam makalah ini akan mencoba mengungkap hubungan antara ilmu kalam, filsafat dan tasawuf.
B. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari ilmu kalam, filsafat dan tasawuf?
2.      Bagaimana hubungan antara ilmu kalam dengan filsafat?
3.      Bagaiman hubungan antara ilmu kalam dan tasawuf?
C. Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui pengertian ilmu kalam, filsafat dan tasawuf.
2.      Mengetahui hubungan antara ilmu kalam dengan filsafat.
3.      Mengetahui hubungan antara ilmu kalam dengan tasawuf.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sss
B.   Hubungan Ilmu Kalam dengan Filsafat
Sebelum mengetahui Apa hubungan Ilmu kalam dengan Filsafat lebih baiknya kita mengetahui apa Itu Ilmu kalam dan apa itu filsafat. Ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan tentang Wujud Allah, sifat sifat yang mesti ada padanya, sifat sifat yang harus tidak ada padanya dan sifat sifat yang mungkin ada padanya dan membicarakan tentang Rosul Rosul Allah untuk menetapkan kebenaran kerosulannya. Menurut Husein Tripoli bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan kepercayaan keagamaan (agama islam)dengan bukti bukti yang yakin. [1]
Dari pengertian diatas dapat diperoleh gambaran bahwa tiada lain adalah perdebatan teologis diantara umat islam yang didasari atas argumen argumen logis rasional, terutama berkaitan dengan kalam ilahi yang dihubungkan dengan persoalan persoalan manusia seperti baik dan buruk, kebebasan berkehendak mukmin dan kafir, maupun dengan alam semesta berkenaan dengan kebaharuan dan keqodiman alam ini
Sedangkan filsafat menurut bahasa bahasa yunani yakni philia (cinta) dan shopia (kebijaksanaan), jadi apabila digabung menjadi makna cinta pada kebijaksanaan. Maksutnya setiap orang yang berfilsafah akan menjadi bijaksana.[2] Sedangkan menurut istilah filsafat adalah upaya pemahaman diri melalui diri memlalui simbol simbol manusiawi ( budaya, politik, bahasa, religi, kesenian).[3]
Dari pengertian filsafat diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya.
Dari pengertian ilmu kalam dan filsafat dapat mengetahui apa persamaan dan perbedaan dari ilmu kalam dan filsafat tersebut.
            Persamaan
Ilmu kalam dan Filsafat mempunyai kemiripan yakni kemiripan dalam objek kajian. Objek kajian Ilmu Kalam adalah berkaitan Ketuhanan dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya . sedangkan objek kajian filsafat adalah masalah ketuhanan disamping masalah alam, manusia dan segala sesuatu yang ada
Persamaan yang selanjutnya adalah sama berurusan dengan hal yang bersifat kebenaran. Ilmu kalam dengan metodenya sendiri  berusaha mencari kebenaran tentang tuhan dan yang berkaitan dengan nya sedangkan filsafat sendiri juga sama yakni berusaha menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun manusia ( yang belum atau tidak dapat diketahui oleh akal ).
            Perbedaan
Ada persamaan maka ada pula perbedaan. Perbedaan ilmu kalam dan filsafat yakni dari segi metodologinya. Ilmu kalam sebagai ilmu yang menggunakan logika berfungsi juga untuk mempertahankan keyakinan ajaran agama yang sangat tampak  nilai apologinya. Pada dasarnya ilmu ini menggunakan metode dialektika (jadailah) dikenal juga dengan istilah dialog keagamaan, ilmu kalam berisi keyakinan keyakinan kebenaran agama yang dipertahankan melalui argument argument rasional.
Semantara itu filsafat ilmu yang digunakan untuk memperoleh kebenaran rasional. Metode yang digunakanpun adalah metode rasional. Jadi filsafat menghampri kebenaran dengan cara menggunakan akal budi secara radikal(mengakar) dan integral(mengalami) serta universal (menyeluruh)tidak merasa terikat oleh ikatan apapun kecuali logika
Dari embahasan pembahasan ini dapat disimpulkan bahwasannya hubungan dari kedua ilmu diatas adalah sama sama mencari kebenaran tentang tuhan tentang tuhan. Kebenaran dalam Ilmu kalam berupa diketahuinya kebenaran ajaran agama melalui penalaran rasional lalu dirujukan kepada nash.
Sedangkan kebenaran dalam filsafat berupa kebenaran spekulatif tentang segala yang ada (wujud)yakni dapat dibuktikan dengan riset dan eksperiment. Dan filsafat menemukan kebenaran dengan menuangkan akal budi secara radikal integral dan universal.
C. HUBUNGAN ILMU KALAM DENGAN TASAWUF
1.      Kaitan Ilmu Kalam Dengan Tasawuf
Ilmu kala, sebagaimana telah disebutkan, merupak disiplin ilmu kislaman yang mengedepankan pembicaraan tentang persoalan kalam tuhan. Persoalan – persoalan kalam ini biasanya mengarah pada diskusi yang mendalam dengan dasar-dasar argumentasi, baik secara rasional (Aqliyah) maupun naqliyah. Argumentasi rasional yang dimaksudkan adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan berfikir filosofis, sedangkan argumentasi naqliyah biasanya berlandaskan pada argumentasu berupa dalil-dalil Al-Quran dan Hadis. .
Penjelasan materi-materi yang tercakup dalam Ilmu Kalam nampaknya tidak menyentuh dzauq (rasa rohaniah). Sebagai contoh Ilmu Kalam menerangkan bahwa Allah bersifat Sama’ (Maha Mendengar), Bashar (Maha Melihat), Kalam (Maha Berbicara), Iradah (Maha Berkehendak), Qudrah (Maha Kuasa), Hayat (Maha Hidup) dan sebagainya. Namun dalam Ilmu kalam tidak menjelaskan bagaimanakah seorang hamba dapat merasakan langsung bahwa Allah SWT mendengar dan melihatnya, bagaimanakah pula perasaan hati seseorang ketika mebaca Al-Quran, dan bagaimana seseorang merasa bahwa segala sesuatu yang tercipta merupakan pengaruh dari Qudrah (Kekuasaan) Allah SWT.
Pertanyaan – pertanyaan diatas sulit terjawab dengan hanya melandaskan diri pada Ilmu kalam, dan biasanya yang membicarakan penghayatan hingga sampai penanaman kejiwaan manusia adalah ilmu tasawuf. Disiplin ilmu inilah membahas bagaimana merasakan nilai-nilai aqidah dengan memperhatikan bahwa persoalan tadzawwuq (bagaimana merasakan) tidak saja dalam permasalahan perkara-perkara yang sunnah atau sesuatu yang dianjurkan, justru akan menemukan perkara yang dianjurkan.
Pada ilmu kalam ditemukan pembahasan iman dan definisinya serta kemunafikan dan batasannya. Adapun di dalam ilmu tasawuf ditemukan pembahasan jalan atau metode praktis untuk merasakan keyakinan dan ketenangan batin serta usaha menyelamatkan diri dari kemunafikan[4].
Hubungan ilmu tasawuf dan ilmu tauhid dalam buku yang berjudul Asma Al- Husna, Al-Ghazali menjelaskan dengan baik mengenai persoalan tauhid kepada Allah SWT yang meroakan materi pokok ilmu kalam atau ilmu tauhid. Nama Tuhan Ar-Rahman dan Ar-Rahim, pada aplikasi rohaniahnya merupakan sebuah sifat yang harus diteladani. Jika sifat Ar-Rahman diaplikasikan, sesorang akan memandang orang yang durhaka dengan kelembutan bukan kekerasan, melihat orang dengan mata rahim bukan dengan mata yang menghina, bahkan ia mencurahakan ke-rahim-annya kepada orang yang durhaka agar orang tersebut diselamatkan. Dengan lmu tasawuf kajian ilmu kalam atau ilmu tauhid terasa lebih bermakna, tidak kaku bahkan lebih dinamis dan aplikatif[5].
2.      Fungsi Ilmu Kalam Dengan Ilmu Tasawuf
Dalam kaitan ilmu kalam dan tasawuf keduanya mempunya fungsi sebagai berikut :
1)      Sebagai Pemberi Wawasan Spiritual Dalam Pemahaman Kalam
Penghayatan  yang mendalam lewat hati (dzaug dan wijdan) terhadap ilmu tauhid atau ilmu kalam menjadikan ilmu ini lebih terhayati dan teraplikasikan dalam perilaku. Dengan demikian, ilmu tasawuf merupakan penyempurna ilmu kalam, jika dilihat dari sudut pandang bahwa tasawuf merupakan sisi terapan rohaniah dari ilmu kalam[6].
2)      Sebagai Pengendali Tasawuf
Oleh karena itu jika timbul suatu aliran yang bertentangan dengan akidah yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka itu merupakakan penyimpangan atau penyelewengan. Jika bertentangan atau tidak pernah diriwayatkan oleh ulama-ulama hal itu perlu ditolak[7].
3)      Pemberi Kesadaran Rohaniah dalam Perdebatan – perdebatan Kalam
Sebagaimana diebutkan bahwa ilmu kalam di dalam dunia islam cenderung menjadi ilmu yang menagndung muatan rasional, disamping muatan naqliyah. Dan hal ini jika tidak diimbangi dengan kesadaran spiritual, maka ilmu kalam bisa bergerak ke arah yang lebih iberal dan independen, di sinilah fungsi ilmu tasawuf berfungsi memberikan muatan spiritual, terhadap pemikiran yang kering dan kesadaran pengahayatan atau sentuhan secara qalbiyah (hati).[8]









[1]Dr. H. Muhammad Hasbi, ilmu kalam,trushMedia hall 1
[2]Drs. Paulus Wahana, Mag. Hum.
[3][3]Drs. Paulus Wahana, Mag. Hum.

[4] Dr. H. Badrudin. Pengantar Ilmu Tasawuf. Hal 25
[6] Dr. H. Badrudin. Pengantar Ilmu Tasawuf. Hal 26
[8] Ibid hal 26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Tauhid Ilmu kalam

Makalah Iman Kafir Nifaq Kufur

Makalah Aliran Syiah dan Mu'tazilah