Makalah Aliran Syiah dan Mu'tazilah
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah
Perkembangan Aliran Syiah dan Muktazilah
1)
Sejarah
Munculnya Syiah
Mengenai kemunculannya, terdapat beberapa pendapat. Menurut Abu
Zahrah Syi’ah muncul pada akhir masa Khalifah ketiga, yaitu Utsman bin Affan
kemudian tumbuh dan berkembang pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib.[1]
Sementara menurut kalangan Syi’ah sendiri, kemunculannya berkaitan dengan
pemilihan khalifah, pengganti Nabi Muhammad. Mereka menolak pemerintahan Abu
Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan. Menurut pandangan mereka hanya Ali
bin Abi Thalib yang berhak menggantikan beliau. Menurut Watt, Syi’ah baru
benar-benar muncul ketika terjadi peperangan antara Ali dan Mu’awiyyah
yangdikenal dengan perang Shiffin. Di dalam peperangan ini, Ali menerima arbitrase
yang ditawarkan Mu’awiyyah. Pasukan Ali kemudian terpecah menjadi dua. Satu
kelompok mendukung Ali, yang kemudian dikenal dengan Syi’ah , dan satu kelompok
yang tidak mendukung Ali dikenal dengan Khawarij.
Pada masa pemerintahan Mu’awiyah terjadi ketidak kondusifan dalam
pemerintahannya. Mu’awiyah menciptakan tradisi buruk pada masanya yang
berlanjut pada masa anaknya, Yazid dan para penggantinya sampai masa khalifah
Umar bin Abdul Aziz. Tradisi buruk itu adalah mengutuk Imam Al-Huda,
yaitu Ali bin Abi Thalib pada setiap penutup khutbah jum’at.[2]
Para sahabat telah melarang Mu’awiyah dan pejabat-pejabatnya melakukan hal itu.
Bahkan Ummu Salamah, istri Nabi menulis surat kepada Mu’awiyah, “Sesungguhnya
Anda telah mengutuk Allah dan Rasul-Nya karena karena Anda mengutuk Ali bin Abi
Thalib dan orang-orang yang dicintainya. Saya bersaksi bahwa Rasulullah
mencintainya.”
Pada masa Yazid, Husain bin Ali dibunuh secara kejam, dan darahnya
mengalir secara keji, tanpa mengindahkan kehormatan agama. Anak-anak perempuan
Husain dan Ali pun ditawan oleh Yazid bin Mu’awiyah, sedangkan mereka adalah
anak cucu Nabi. Rakyat menyaksikan hal itu tanpa bisa mencegah dan mengubahnya.
Mereka hanya dapat menahan kemarahan, menekan perasaan dan menaggung
penderitaan yang sangat berat. Karena itu, mereka terdorong untuk memberikan
penghargaan yang berlebihan terhadap orang-orang yang dianiaya secara kejam
oleh Bani Umayyah. Perlakuan pemerintah itu telah menciptakan tekanan mental
dan jiwa pada diri para pendukung Ali, dan hal itu mendorong mereka memberikan
penghargaan yang berlebihan terhadapnya, karena rasa kasih sayanag dapat
mendorong timbulnya sikap membesar-besarkan dan melebih-lebihkan.
Irak merupakan tempat munculnya Syi’ah, hal ini dikarenakan
beberapa sebab yang saling mendukung. Ali bin Abi Thalib menjadikan Irak
sebagai kediamannya pada masa kekhalifahannya. Disana ia bertemu dengan rakyat
yang memandangnya memiliki banyak kelebihan yang membuat mereka menghargainya.
Sementara itu, mereka tidak pernah menunjukkan rasa patuh terhadap para
penguasa Umawi. Pada masa kekhalifahannya, Mu’awiyah mengangkat Ziyad bin Abih
untuk memimpin penumpasan kelompok pembangkang itu. Misi Ziyad belum berhasil
mencabut akar-akar kebencian dari dalam jiwa mereka. Ketika Ziyad wafat,
putranya menggantikan posisinya pada masa kekhalifahan Yazid bin Mu’awiyah.
Namun, ketika itu penduduk Irak telah menjadi kelompok pertama yang memberontak
terhadap para penguasa Umawi sampai kekuasaan dipegang oleh putra-putra Marwan.
Khalifah Abdul Malik bin Marwan mengangkat Al-Hajjaj untuk memimpin penumpasan
mereka, sehingga api pemberontakan menjadi panas. Namun, semakin panas api itu,
semakin lekat madzhab Syi’ah dalam jiwa para penganutnya.[3]
Di samping itu, Irak merupakan tempat pertemuan peradaban-peradaban
kuno. Di sana terdapat berbagai pengetahuan Persia serta sisa-sisa
peradabannya. Filsafat Yunani juga masuk ke Irak. Berbagai peradaban dan
pemikiran itu bercampur di Irak, sehingga Irak menjadi tempat tumbuhnya
berbagai golongan dalam Islam, khususnya yang berhubungan dengan filsafat.
Itulah sebabnya Syi’ah banyak dipengaruhi oleh pemikiran filosofis yang telah
beradaptasi dengan pemikiran di Irak. Hal ini memperlihatkan bahwa sejak dahulu
Irak penuh dengan berbagai pemikiran dan akidah sehingga melahirkan
madzhab-madzhab politik dan akidah. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa
dalam kondisi lingkungan seperti itu pemikiran Syi’ah dapat berkembang.
2)
Sejarah
Munculnya Muktazilah
Mu’tazilah muncul di Kota Basrah (Irak) pada abad ke-2 H (antara
tahun 105-110 H), pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan Khalifah Hisyam
bin Abdul Malik. Awal pemberian nama Mu’tazilah menurut sebagian pendapat
diberikan oleh orang di luar Mu’tazilah. Berdasarkan ucapan Hasan Al-Bashri,
setelah melihat Washil bin Atha’ memisahkan diri dari halaqah yang
diselenggarakan olehnya. Hasan Al-Bashri, dalam sebuah riwayat memberi komentar
“i’tazala ‘anna”(dia mengasingkan diri dari kami). Akhirnya orang-orang
yang mengasingkan diri tersebut disebut dengan “Mu’tazilah” yang berarti
orang yang mengasingkan diri dari majelis Hasan Al-Bashri.[4]
Ada yang berpendapat bahwa kelompok Mu’tazilah telah muncul pada
pertengahan abad pertama Hijriah, yakni diistilahkan pada para sahabat yang
memisahkan diri atau bersikap netral dalam peristiwa-peristiwa politik, seperti
peristiwa meletusnya Perang Jamal dan Siffin, yang kemudian mendasari sejumlah
sahabat yang tidak mau terlibat dalam konflik tersebut memilih jalan tengah.
Pada abad ke-2 H, Mu’tazilah muncul karena dorongan persoalan akidah. Pendapat
lain juga mengatakan bahwa penyebutan
Mu’tazilah karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Murji’ah dan Khawarij
tentang tahkim atau pemberian status bagi orang yang melakukan dosa besar.
B.
Tokoh
Aliran Syiah dan Muktazila
1)
Tokoh
Aliran Syiah
1.
Pemrakarsa
Syi’ah)
Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman.
Berpura-pura masuk Islam (secara nifak) dizaman Khalifah Utsman bin Affan.
Dialah pemrakarsa ajaran Syi’ah yang ekstrem yang menjadi puncak bersemaraknya
perpecahan dalam kalangan masyarakat islam terutama dalam kelompok Syi’ah itu
sendiri. Abdullah bin Saba’ pernah berkata yang ditujukan kepada Khalifah Ali. : ‘Engkaulah Allah”.
Mengisytiharkan bunuh terhadap Abdullah bin Saba’ tetapi dicegah oleh Ibn Abbas.
Penyokong Ali membangnya ke Madain (Ibu
Negeri Iran Lama).
Abdullah bin Saba’ orang pertama mengkafirkan Abu Bakar, ‘Umar dan
Utsman dan tidak mengiktiraf kekhalifahan kecuali hanya dari kalangan Ahli
Bait. Seorang ulama Syi’ah Muhammad Husin al-Zain pernah memperkatakan tentang
Abdullah bin Saba’ :
“Abdullah bin Saba’ mengeluarkan qaul (yang sesat) mengajarkan
fahaman yang ghalu (keterlaluan) dan perbuatan yang melampaui batas.”
Saad bin Abdullah al-Qumy seorang ulama, pemimpin serta ahli hukum
Syi’ah yang lahir pada 229 H. mengakui wujudnya Abdullah bin Saba’. Beliau
menyebut beberapa nama orang yang berkonspirasi yang digelar sebagai Saba’iyah.
Menurut beliau lagi bahwa komplot Saba’iyah adalah firqah pertama dalam islam
yang mengeluarkan perkataan-perkataan yang ghalu (keterlaluan).
Pegangan Syi’ah Imamiyah yang ada sekarang adalah berasaskan
ideologi dan doktrin sesat Abdullah bin Saba’. Fahaman ini disampaikan
(dipelihara) dalam bentuk riwayat hadist yang dinasabkan kepada keluarga Nabi
(Ahli Bait) dengan penuh kebohongan tetapi diterima oleh mereka yang jahil.[5]
2.
Zaid
bin Ali Zainul Abidin
Beliau dikenal sebagai ahli fiqih kenamaan dimasanya. Pengakuan
tersebut pernah diucapkan oleh Imam Abu Hanifah sendiri : “aku kenal Imam Zaid
bin Ali sebagaimana aku kenal keluarganya. Dimasanya tidak pernah ada seorang
yang lebih ahli fiqih daripada beliau. Dan aku tidak pernah melihat seorangpun
lebih luas pengetahuannya, lebih cepat menjawab dan lebih terang penjelasannya
daripada beliau, jarang sekali mendapati orang semacam beliau.
Kumpulan Syi’ah Zaidiyah nistbatnya kembali pada beliau. Beliau
dihianati oleh pengikutnya sendiri yang berada di kota kuffah. Sebahagian
pengikut beliau adapula golongan yang ekstrimis. Mereka menuntut agar beliau
tidak mengakui kekhalifahan Abu Bakar dan Ummar secara sah. Namun beliau
menolak dan beliau menyatakan dengan terang-terangan bahwa Abu Bakar dan Ummar
adalah Khalifah Rasulullah saw yang sah. Sejak itulah pengikut beliau yang
menolak kekhalifahan Abu bakar dan ummar disebut golongan Syi’ah Rafidha.
Sedangkan pengikut beliau yang tetap mengikuti pendapat beliau tentang sahnya
kekhalifahan Abu Bakar dan Ummar disebut Syi’ah Zaidiyah.
3.
Abu
Dzar bin Jundab al Ghiffari
Abu Dzar bin Jundab al Ghiffari adalah salah seorang yang dijuluki
empat pilar syi’ah, Khalifah ke III mengangsikannya di desa kecil Rabadzah
hingga beliau wafat. Beliau bersama Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah hadist dari
Rasulullah yang bersabda, “kelak sepeninggalku akan timbul fitnah. Oleh karena
itu pilihlah Ali bin Abi thalib, karena ia adalah yang pertama kali akan
menjabat tangan ku di hari kiamat kelak. Dialah yang paling jujur dan seorang
pembeda yang membedakan antara haq dan bathil, dan dia adalh pemimpin besar
bagi orang-orang mukmin”. Diberbagai kesempatan Abu Dzar sering mengungkapkan
hak-hak Ahlul Bait, diantaranya yang disebutkan ya’qubi, bahwa Abu Dzar sering
mengatakan “Ali adalah pengemban wasiat (washi) Muhammad dan pewaris (warits)
ilmunya. Wahai orang-orang yang bingung tersesat setelah rasulnya, jika mau
mendahulukan dalam kepemimpinan mereka yang telah Allah dahulukan, dan
menyingkirkan orang yang telah Allah singkirkan, dan jika kalian tegar
menempatkan kekhalifahan dan pewaris pada orang keluarga Rasulmu. Kalian pasti
makmur dan kebutuhan hidupmu akan melimpah ruah.” [6]
4.
Salman
al Farisi
Beliau asli Persia pengikut dan Sahabat Rasulullah SAW yang sangat
bersemangat.beliau selalu menjadi pendukung Imam Ali bin Abi Thalib yang
bersemangat. Rasulullah SAW pernah berwasiat kepadanya “wahai Salman seandainya
seluruh ummat manusia menempuh satu jalan, dan Ali menempuh jalan lain maka
ikutilah Ali.” Beliau mengatakan “Kami membai’at Rasulullah saw sebagai
kesetiaan kepada kaum muslimin, serta mengakui keimamahan Ali bin Abi Thalib
dan setia kepadanya.
5.
Abdullah
bin Khatab bin Arat
Beliau adalah pecinta Ahlul Ba’it dan pembela Imam Ali bin Abi
Thalib. Beliau syahid dibunuh oleh kelompok Khawarij bersama istrinya yang
sedang mengandung, jenazahnya dibuang ditempat sampah. Beliau dibunuh lantaran
kecintaanya kepada Ali bin Abi Thalib, usai menjawab pertanyaan kaum khawarij
yang menanyakan : “ meminta pendapat tantang Ali bin Abi Thalib”, kemudian
beliau menjawab “ Ali adalah amirul mukminin sekaligus imam kaum Muslim.”
2)
Tokoh
Aliran Muktazilah
1.
Wasil
bin Atha (80-131 H/ 699-748 M)
Wasil bin Atha’ Al-Ghazal dikenal
sebagai seorang pendiri aliran Mu’tazilah, sekaligus sebagai pemimpinnya yang
paling pertama. Serta dia juga terkenal sebagai orang yang telah menyimpan
prinsip pemikiran kaum Mu’tazilah yang rasional. Orang yang pertama yang meletakkan
kerangka dasar ajaran pokok Mu’tazilah. Ajaran pokok yang didengungkannya ada
tiga macam yaitu, faham al-Manzilah bain al-Manzilatain, faham aliran
Qodariah yang diambil dari tokohnya Ma’bad dan Gailan serta faham yang
meniadakan sifat-sifat Tuhan. Dua dari
tiga ajaran pokok lalu menjadi ajaran Mu’tazilah yaitu “al- Manzilah bain
al-Manzilatain”.
2.
Abu
Huzail al-Allaf (135-235 H)
Nama lengkapnya ialah Abdul Huzail
Muhammad Abu Al-Huzail Al-Allaf, ia adalah pemimpin kaum Mu’tazilah yang kedua
di Kota Basrah. Ia sering menekuni
filsafat bangsa Yunani. Pengetahuannya mengenai filsafat memudahkan untuknya
dalam menyusun dasar-dasar ajaran Mu’tazilah dengan teratur. Pengetahuannya
berkaitan dengan logika, membuat ia menjelma menjadi ahli dalam debat. Lawan-lawannya
dari kaum zindik dari kelompok majusi, serta Zoroaster dan Atheis tidak mampu
membantah yang ia berikan. Menurut suatu riwayat, 3000 orang telah
memasuki agama islam pada tangannya.
Puncak kebesarannya itu di raih pada masa Al-Makmun, karena khalifah ini pernah
menjadi salah seorang muridnya.[7]
3.
Ibrahim
bin Sayyar an-Nasam (wafat tahun 221 H)
Nama lengkapnya Ibrahim bin Sayyar
bin Hani an-Nasam. Beliau adalah tokoh terkemuka Mu’tazilah yang dikenal fasih
dan cerdas. Beberapa pemikirannya mendahului masanya, seperti method of
doubt dan empirika yang menjadi dasar renaissance di Eropa.
4.
Al
–Jubba’I (wafat tahun 302 H)
Nama asli Al-Jubba’I diambil dari
nama kota kelahirannya yaitu dari daerah yang bernama Jubba, di Provinsi
Chuzentan-Iran. Dia merupakan guru imam Abu Hasan al- Asy’ari, pendiri kelompok
Asy’ariyah. Pada saat Al-Asy’ari keluar dari dari barisan Mu’tazilah serta
menyerang pendapatnya ia membalas serangan dari Asy’ari tersebut. Pikirannya
tentang tafsiran Al-Qur’an banyak diambil oleh Az-Zamakhsyari. Dia dan anaknya
yaitu Abu Hasyim Al-Jubba’I memperlihatkan akhir kejayaan. Menurut aliran
Mu’tazilah pendapatnya yang Mansyur itu mengenai kalam Allah swt, sifat Allah
swt, kewajiban seorang manusia, serta daya ingat. Mengenai kalam Allah swt, ia
sependapat dengan an-Nazzam. Mengenai sifat Allah swt, ia menjelaskan bahwa
tuhan tidak memiliki sifat, kalau disebutkan Tuhan berkuasa, berkehendak atau
mengetahui berarti Dia berkuasa, berkehendak, dan mengetahui melalui
eksensinya, bukan dengan sifatnya itu. Tentang kewajiban ummat manusia, ia
membaginya kedalam dua kelompok yaitu kewajiban-kewajiban yang dipahami oleh
manusia dengan akalnya dan kewajiban-kewajiban manusia melalui ajaran yang
dibawa oleh Rasulnya. Sementara itu, daya akal menurut pendapat Al Jubba’I
sangatlah besar. Melalui akalnya manusia, akal manusia dapat mengenal apa-apa
yang baik dan yang buruk serta mengetahui kewajiban berbuat baik serta
meninggalkan yang buruk. Pendapat ini menjadi bagian dari ajaran Mu’tazilah
yang penting.
5.
Mu’ammar
bin Abbad
Dia merupakan pendiri Mu’tazilah
aliran kota Baghdad. Pendapatnya yang penting yaitu mengenai kepercayaan pada
hukum alam, sama seperti pendapat al-Jahiz. Ia menyatakan bahwa tuhan hanya
menjadikan benda-benda materi saja, sementara al-a’rad atau accidents (sesuatu
yang datang pada benda-benda) itu adalah hasil dari hukum alam itu. Contohnya
seperti jika sebuah batu dilemparkan ke air, maka gelombang yang akan
dihasilkannya oleh lemparan batu itu merupakan hasil atau kreasi dari batu itu,
bukan hasil ciptan dari Tuhan.
C.
Doktrin
dan Perbandingan Aliran Syiah dan Muktazilah
1)
Doktrin
Aliran Syiah
1.
Tauhid, bahwa Allah SWT adalah Maha Esa.
2.
Al-‘Adl, bahwa Allah SWT adalah Maha Adil.
3.
An-Nubuwwah, bahwa kepercayaan Syi’ah pada keberadaan para nabi sama seperti
muslimin yang lain. Kepercayaan Syi’ah tentang kenabian adalah:
a)
Jumlah
Nabi dan Rasul Allah ada 124.000
b)
Nabi
dan Rasul terakhir adalah Nabi Muhammad SAW.
c)
Nabi
Muhammad SAW suci dari segala aib dan tidak ada cacat apapun. Beliaulah Nabi
paling utama dari seluruh Nabi yang ada.
d)
Ahlul
Bait(keluarga dekat) Nabi Muhammad adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husain dan
keturunannya adalah manusia-manusia suci.
e)
Al-Qur’an
adalah mukjizat kekal Nabi Muhammad SAW.
4.
Al-Imamah,
bahwa bagi
Syi’ah berarti pemimpin urusan agama dan dunia, yaitu seseorang yang bisa
menggantikan peran Nabi Muhammad SAW sebagai pemelihara syari’at Islam,
mewujudkan kebaikan dan ketenteraman umat.
2)
Doktrin
Aliran Muktazilah
Mu’tazilah
memiliki asas dan landasan tersendiri. Doktrin yang terkenal adalah lima
landasan pokok Mu’tazilah atau yang dikenal dengan usulul khamsah.
1.
At-Tauhid (Keesaan Tuhan)
Tuhan
adalah dzat yang tunggal. Tuhan mendengar dengan dzat-Nya, melihat dengan
dzat-Nya dan berkata dengan dzat-Nya. Atas prinsip tersebut kaum Mu’tazilah
menetapkan bahwa Allah mustahil dapat dilihat pada hari kiamat, jika dapat
dilihat berarti bahwa Allah berjasad. Kaum Mu’tazilah juga menetapkan bahwa
sifat-sifat Allah bukanlah sesuatu yang lain dari dzat-Nya sendiri. Jika tidak
demikian, maka menurut pendapat mereka akan terjadi ta’addud al-qudama’(yang
qadim menjadi berbilang). Dengan dasar tauhid ini mereka menetapkan
bahwa Al-Qur’an adalah makhluk (diciptakan) Allah. Penetapan ini dimaksudkan
untuk mencegah berbilangnya yang qadim.
2.
Al-‘Adl
( Keadilan
Tuhan)
Kaum
Mu’tazilah ingin menyucikan perbuatan Tuhan dari persamaan dengan perbuatan
makhluk. Mereka sangat yakin jika Tuhan maha adil. Manusia dihukum Tuhan karena
mengerjakan dosa dan mendapat pahala karena melakukan amal ibadah yang baik.
Oleh karena itu, menurut kaum Mu’tazilah semua perbuatan manusia dibuat dan
diciptakan oleh manusia sendiri, baik perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
Semua perbuatan manusia tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan. [9]
3.
Al-Wa’du
wal Wa’id ( Janji dan
Ancaman)
Kaum
Mu’tazilah yakin bahwa janji dan ancaman pasti terjadi, yaitu janji Tuhan yang
berupa pahala (surga) bagi orang yang berbuat baik dan ancaman berupa siksa
(neraka) bagi yang berbuat durhaka. Begitu pula janji Tuhan untuk memberikan
pengampunan bagi orang-orang yang bertaubat.[10]
4.
Al-Manzilah
baina Al-Manzilatain
(Tempat di Antara Dua Tempat)
Pokok
ajaran Al-Manzilah baina Al-Manzilatain adalah orang Islam yang
melakukan dosa besar (maksiat) selain syirik dan belum bertaubat tidak dikatkan
kafir atau mukmin, tetapi disebut dengan fasik. Keimanan menuntut adanya
kepatuhan kepada Tuhan dan tidak cukup hanya dengan pengakuan dan pembenaran.[11]
5.
Al-Amru
bil Ma’ruf wa An-Nahy ‘An Al-Munkar (Menyuruh Berbuat Baik dan Melarang Kemungkaran)
Kaum Mu’tazilah mengatakan bahwa akal manusia sanggup membedakan
antara yang baik dan buruk. Kaum Mu’tazilah menetapkan bahwa semua Muslim wajib
melakukan upaya menyuruh berbuat baik dan melarang kemungkaran untuk menyiarkan
dakwah Islam dan mengetahui orang yang sesat serta mencegah serangan orang yang
mencampur adukkan kebenaran dan kebatilan sehingga mereka tidak dapat
menghancurkan Islam.[12]
3)
Perbandingan
Aliran Syiah dan Mu’tazilah
Syi’ah
hanya mempercayai pada ahlul bait. Syiah berpandangan bahwa segala
petunjuk agama bersumber dari Ahli al-bait (keturunan atau kelarga Nabi
Muhammad Saw) mereka menolak petunjuk keagamaan dari para sahabat yang bukan Ahli
al-bait atau para pengikutnya. Sedangkan Mu’tazilah lebih mengedepankan
pada Akal/Rasionya sebagai sumber untuk mengetahui Tuhan.
D.
Sekte-sekte
Aliran Syiah dan Mu’tazilah
1)
Sekte-sekte
Aliran Syiah
a.
Syi’ah
Isna ‘Asyariyah
Sekte ini disebut juga Imamiah atau Dua Belas Imam,dinamakn
demikian karena mereka percaya yang berhak memimpin muslimin hanya imam, dan
mereka yakin ada dua belas. Sekte ini
sepakat bahwa Ali adalah penerima wasiat setelah Ali adalah keturunan dari
garis Fatimah, yaitu Hasan bin Ali dan Husein bi Ali. Alirahn ini adalah yang
terbesar di dalam Syiah. Aliran ini adalah yang terbesar di dalam Syiah. Urutan
imam mereka yaitu:
1)
Ali
bin Abi Thalib (600-661), dikenal dengan Amirul Mukminin,
2)
Hasan
bin Ali (625-669), dikenal dengan Hasan
al-Mujtaba,
3)
Husain
bin Ali (626-680), dikenal dengan Husain
asy-Syahid,
4)
Ali
bin Husain (658-713), dikenal dengan Ali
Zaibnal Abidin,
5)
Muhammad
bin Ali (676-743), dikenal dengan Muhammad al-Baqir,
6)
Ja’far
bin Muhammad (703-765), dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq,
7)
Musa
bin Ja’far (745-799), dikenal dengan Musa al-Kadzim,
8)
Ali
bin Musa (765-818), dikenal dengan Ali ar-Ridha,
9)
Muhammad
bin Ali (810-835), dikenal dengan Muhammad al Jawad atau Muhammad at
Taqi,
10)
Ali
bin Muhammad (827-865), dikenal dengan Ali al-Hadi,
11)
Hasan
bin Ali (846-874), dikenal dengan Hasan al-Asykari,
12)
Muhammad
bin Hasan (868-), dikenal dengan Muhammad al-Mahdi.
b.
Syi’ah
Sab’iyah
Syi’ah Sab’iyah disebut juga Tujuh Imam, dikarenakan mereka percaya
bahwa imam hanya tujuh orang dari Ali bin Abi thalib, dan mereka percaya bahwa
imam ketujuh adalah Isama’il yang dalam Syiah Itsana’ Asyariyah dibatalkan
karena dipandang memiliki kebiasaan tidak terpuji, dan wafat mendahului
ayahnya.. Urutan imam mereka sebagai berikutb :
1)
Ali
bin Abi Thalib (600-661), dikenal dengan Amirul Mukminin,
2)
Hasan
bin Ali (625-669), dikenal dengan Hasan
al-Mujtaba,
3)
Husain
bin Ali (626-680), dikenal dengan Husain
asy-Syahid,
4)
Ali
bin Husain (658-713), dikenal dengan Ali
Zaibnal Abidin,
5)
Muhammad
bin Ali (676-743), dikenal dengan Muhammad al-Baqir,
6)
Ja’far
bin Muhammad (703-765), dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq,
7)
Ismail
bin Ja’far (721-755), adalah anak pertama Ja’far dan kakak Musa Al-Kadzim
Sekte ini dipelopori oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang
berpura-pura masuk islam, tetapi jiwanya masih dalam kepercayaan Yahudi.
Mengenai sifat Allah, sekte ini meniadakan sifat dari zat-zat Allah. Menurut
mereka, penetapan sifat berarti penyerupaan dengan makhluk
c.
Syi’ah
Zaidiyah
Disebut juga Lima Imam, dinamakan demikian sebab mereka merupakan
pengikut Zaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap
moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum Ali tidak sah. Urutan
imam mereka yaitu:
1)
Ali
bin Abi Thalib (600-661), dikenal dengan Amirul Mukminin,
2)
Hasan
bin Ali (625-669), dikenal dengan Hasan
al-Mujtaba,
3)
Husain
bin Ali (626-680), dikenal dengan Husain
asy-Syahid,
4)
Ali
bin Husain (658-713), dikenal dengan Ali
Zaibnal Abidin,
5)
Zaid
bin Ali (658-740), dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak
tiri Muhammad al-Baqir.
2)
Sekte-sekte
Aliran Muktazilah
Aliran
Muktazilah memiliki tokoh-tokoh ysng terkemuka dan masing-masing mempunyai
pikiran dan ajaran-ajaran sendiri yang berbeda dengan tokoh-tokoh sebelumnya
atau pada masanya, sehingga masing-masing tokoh mempunyai aliran sendiri.
Secara geografis aliran Muktazilah dibagi menjadi dua aliran yaitu Muktazilah
Basrah dan aliran Bagdad. Aliran muktazilah Basrah lebih dahulu munculnya
dibandingkan dengan aliran muktazilah Bagdad.[13]
a.
Aliran Mu’tazilah Basrah
Ø Mu’tazilah cabang Basrah dipimpin oleh Washil bin Atha’ (wafat 131
H), ia terkenal sebagai pendiri aliran Mu’tazilah dan pimpinan yang melatakan
lima prinsip ajaran /mu’tazilah[14],
dan yang kedua dipimpin oleh Umar bin Ubaid (wafat 144 H) dengan murid-muridnya,
yaitu Utsman ath-Thawil, Hafasah bin Salim, Hasan bin zakwan, Khalid bin
Safwan, Ibrahim bin Yahya al Madani
Ø Pada abad kedua Hijriyah, Mu’tazilah cabang Basrah dipimpin oleh
Abu Hudzail Al Allaf (wafat 235 H), Ibrahim bin Sayyar an-Nazham (wafat 221 H),
Abu Basyar al-Marisi (wafat 218 H), Usman al-Jahizh (wafat 255 H), Ibnu
al-Muktamar (wafat 210 H), dan Abu Ali bin Al-Juba’i (wafat 303 H)[15]
b.
Aliran
Mu’tazilah Bagdad
Mu’tazilah cabang Bagdad didirikan oleh Basyar bin al-Muktamar,
salah seorang pemimpin Basrah yang pindah ke Bagdad, kemudian dibantu oleh
pengikut-pengikutnya, yaitu Abu Musa al-Murdar, Ahmad bin Abi Daud (wafat 240
H), dan Ja’far bin Harib al-Hamdani (wafat 236 H).
Adapun para khalifah yang secara terang-terangan menganut atau
setidaknya mendukung Aliran Muktazilah cabang bagdad adalah:
·
Ma’mun
bin Harun ar-Rasyid, khalifah Bani Abbas (berkuasa dari tahun 198-218 H)
·
Al-Muktashim
bin Harun ar-Rasyid (berkuasa dari tahun 218-227 H)
·
Al-Wasiq
bin al-Muktashim (berkuasa dari tahun 227-232 H) [16]
Perbedaan pada kedua aliran tersebut pada umumnya disebabkan karena
situasi geografis dan cultural dimana kota Basrah lebih dahulu didirikan dan
mengenal perpaduan aneka ragam kebudayaan dan agama. Menurut keterangan Ahmad
Amin perbedaan kedua aliran tersebut juga karena aliran muktazilah Bagdad
banyak dipengaruhi filsafat Yunani, disebabkan adanya kegiatan penerjemahan
buku-buku filsafat. Disamping itu juga istana khlaifah Abassiyah di Bagdad
dijadikan tempat pertemuan ulama-ulama islam dengan ahli-ahli pikir golongan
lain. Aliran Basrah lebih banak menekankan pada segi-segi teori dan keilmuan,
sedangkan aliran Bagdad sebaliknya, lebih menekankan pada segi pelaksanaan
aliran Mu’tazilah dan banyak terpengaruh oleh kekuasaan khalifah-khalifah.[17]
E.
Dalil
Al-Qur’an yang Menjadi Landasan Syiah dan Muktazilah
1)
Dalil
Al-Qur’an Ajaran Syiah
1.
QS. Al-Israa : 71
يَوْمَ
نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ
فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا
يُظْلَمُونَ فَتِيلًا
“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari
itu) Kami panggil tiap umat dengan imamnya; dan barang siapa yang diberikan
kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu,
dan mereka tidak dianiaya sedikit pun” (QS. Al-Israa: 71).
Pada
hari pengadilan akhirat, takdir dari setiap orang yang mengikuti para imamnya
yang dipercayainya akan tergantung dari imam-imam yang dipercayainya itu
apabila ia memang benar-benar mengikuti para imam yang ia percayai itu. Allah
menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ada dua jenis imam yang diikuti dan diyakini
oleh para pengikutnya. Ada imam yang mengajak manusia untuk masuk ke dalam api
neraka. Untuk kategori ini adalah para pemimpin yang dzalim di masanya seperti
Fir’aun,
2.
QS. Al-Qashash : 41-42
وَجَعَلْنَاهُمْ
أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ ۖ
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يُنْصَرُونَ
وَأَتْبَعْنَاهُمْ
فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً ۖ وَيَوْمَ
الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ
“Dan Kami jadikan mereka para imam
yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan
ditolong. Dan Kami ikutkanlah laknat kepada mereka di dunia ini; dan pada hari
kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)” (QS.
Al-Qashash: 41—42).
Al-Qur’an sudah memberikan
peringatan kepada orang-orang yang mengikuti para imam yang dzalim dan para
pengikut imam seperti itu akan mendapatkan takdir buruknya kelak di akhir
zaman. Mereka akan digabungkan dengan para imamnya itu dalam jahanam.
3.
QS. As-Sajdah : 24
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً
يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ
وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami JADIKAN di antara mereka
itu IMAM-IMAM yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.
Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24).
Al-Qur’an juga memberikan informasi
tentang adanya Imam-Imam yang memang ditunjuk oleh Allah untuk membimbing
manusia ke jalan yang benar. Dalam ayat tersebut terdapat kalimat جعلنا yang berarti “JADIKAN” dan yang berarti أئمة “IMAM-IMAM” yang menjelaskan secara tegas
tentang jabatan Imam yang ditunjuk oleh Allah dan bukan oleh manusia. Dan
mereka memiliki fungsi yang kurang lebih sama dengan nabi walaupun tidak
membawa kitab suci yang baru).
Dengan melihat ayat-ayat tersebut di
atas, maka kita bisa simpulkan bahwa para pengikut dari Imam-Imam yang mendapat
mandat dari Allah itu akan menemui kebahagiaan di akhirat kelak. Jadi kalau
kita menjadi pengikut seorang imam maka itu tidak berarti apa-apa kalau yang
kita ikuti itu adalah seorang imam yang tidak mendapatkan mandat dari Allah.
Jadi akhir yang baik dan yang buruk bagi kita di akhirat kelak itu ditentukan
dari siapakah imam yang kita ikuti dan patuhi selama kita hidup di bumi.[18]
2)
Dalil
Al-Qur’an Ajaran Muktazilah
1)
Allah
berfirman di dalam al-Qur’an surah al-Anam; 103, berbunyi :
لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ
يُدْرِكُ الْأَبْصَارَ ۖ
وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan
mata, sedang dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha
Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.Al-Anam : 103 )
Menurut Zamakhsyari ayat ini sebagai
penjelasan bahwa Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala kapan pun. Lafad
nafi (la) yang terdapat pada ayat tersebut berlaku umum, tidak terkait
waktu dan tempat tertentu, baik di dunia maupun di akhirat.
2)
Allah
berfirman di dalam al-Qur’an surah al-Qiyamah 22-23, berbunyi :
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ
“Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari
itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”.
Zamakhsyari
berpendapat bahwa karena Tuhan bersifat immateri, maka tidak dapat dilihat
dengan mata kepala. Kata nadhirah diartikan oleh Zamakhsyari dengan arti al-tawaqqu
wa al-raja’ (penantian dan pengharapan). Allah adalah esa, dan tidak ada
sesuatu apa pun yang menyerupainya. Dia bukan jisim (materi), tidak
bertubuh, tidak berbentuk, tidak berdaging, tidak berdarah, tidak adanya warna,
rasa, panas, dingin, basah, dan lain-lain yang merupakan sifat makhluk.
3)
Allah
berfirman di dalam al-Qur’an surah al-Baqarah 30, berbunyi :
إِذْ
قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ
“Ketika Tuhanmu
bersabda kepada Malaikat”
maka pengertian
‘idz’
(ketika) di dalam firman itu menunjukkan suatu tempo, yaitu tempo masa silam.
Maka sabda Allah yang dinyatakan itu telah terjadi pada suatu tempo tertentu.
Setiap sesuatu yang terikat kepada tempo adalah suatu ‘kebaruan’. Nyatalah
sabda Allah yang dinyatakan itu bukanlah dimaksudkan atribut azali dari Allah,
yakni al-Kalam,
tetapi mestilah diartikan dengan suatu pengertian yang lain.
4)
Allah
berfirman di dalam al-Qur’an surah Hud: 1, berbunyi
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ
فُصِّلَتْ
“Suatu kitab
yang ayat-ayatnya tersusun dengan rapi dan kemudian terperinci”,
Hal itu
menunjukkan al-Qur’an tersusun atas ayat-ayat, yakni merupakan bagian-bagian
yang tersusun, maka nyatalah al-Qur’an itu suatu ‘kebaruan’.
5)
Allah
berfirman di dalam al-Qur’an surah Ad dukhon: 3, berbunyi:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya”,
Maka pastilah
al-Qur’an itu suatu ‘kebaruan’, oleh karena penurunan (al-inzal) itu
mustahil di dalam keazalian.[19]
[1]Nok Aenul
Latifah, dkk.,Paham Ilmu Kalam,(Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri,2014) hlm.145
[2]
Imam Muhammad
Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam,(Jakarta: Logos
Publishing House,1996) hlm. 36
[4]
Nok Aenul
Latifah, dkk.,Paham Ilmu Kalam,(Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri,2014) hlm.166
[5]
Mulyono,Studi Ilmu Tauhid/kalam, Malang : uin-maliki press, 2010, hlm.
110.
[8] Mulyono, dkk.,
Studi Ilmu Tauhid/Kalam,(Malang: UIN-Maliki Press, 2010) hlm.112
[9] Ibid,
hlm.169
[10]
Imam Muhammad
Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam,(Jakarta: Logos
Publishing House,1996) hlm.153
[11]
Nok Aenul
Latifah, dkk.,Paham Ilmu Kalam,(Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri,2014) hlm. 169
[12]
Imam Muhammad
Abu Zahrah, Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam,(Jakarta: Logos
Publishing House,1996) hlm.154
[13]
Mulyono,M.A. dan Bashori, Studi Ilmu Tauhid/Kalam, (Malang: UIN-MALIKI
PREES),hlm. 129
[14]
Ibid,130
[15]Noek
Ainul Latifah dan Abdul Mutolib, Paham Ilmu Kalam, (Solo: PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri), hlm.171
[16]
Ibid, 171
[17]
Mulyono,M.A. dan Bashori, Studi Ilmu Tauhid/Kalam, (Malang: UIN-MALIKI
PREES),hlm. 129-130
[18] https://www.facebook.com/SYIAH-TETAP-ISLAM-100212750164987/?hc_ref=ARQy8cingkt772e7zEEsDlpVXDadNkgL3xenDHrqHq09KbtYxUIK5M4-UoQJWjn5ab8
diakses pada tanggal 10 April 2018 jam 08.45 WIB
[19] https://ahamughny.wordpress.com/2009/08/06/al-quran-dan-muktazilah/
diakses pada tanggal 11 April jam 2018 13.15 WIB
Komentar
Posting Komentar