Makalah Tauhid Ilmu kalam
TAUHID
Makalah
ini dibuat untuk memenuhi tugas Ilmu Kalam
Dosen
Pengampu : Ahmad Muzakkil Anam, M.Pd.I

Disusun
oleh :
1.
Asad Qoriansyah (173111074)
2.
Aditya Dessy Crisliana (173111082)
3.
Fatma Sri Lestari (173111088)
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya sehingga mampu
menyelesaikan makalah pada mata kuliah Ilmu Kalam mengenai “Tauhid”.
Kami mengucapkan terimakasih kepada
semua pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini. Harapan
kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca, untuk
kedepannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi
lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan
maupun pengalaman kami, kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini,
oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari
pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Surakarta,
05 Maret 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
BAB I
PEMBUKAAN
A. LATAR BELAKANG
Tauhid merupakan permasalahan yang penting di dalam
agama. Ia merupakan syarat utama untuk menjadikan dirinya muslim. Seorang
muslim haruslah memahami konsep tauhid ini untuk menjalankan memahami tujuan
penciptaannya. Apabila pemahaman konsep tauhid ini kuat, maka akan kuat pula
pilar-pilar keislamannya untuk mengimplementasikan kewajiban-kewajibannya dalam
beribadah kepada Allah Tauhid merupakan konsep akidah islam yang menyatakan
keesaan Allah, dan sumpah ini menuntut adanya kesetian dan kepercayaan yang
mutlak terhadap keesaan-Nya serta menolak untuk mempercayai tuhan-tuhan
selain-Nya.
Dari uraian-uraian tersebut pemakalah berharap agar
para pembaca dapat memahami mengenai konsep ilmu tauhid berikut macam-macamnya,
dan jalan atau cara untuk mengenal Allah serta mendekatkan diri pada-Nya.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa
pengertian tauhid dan ilmu tauhid?
2. Apa
macam-macam tauhid?
3. Apa
makna dari lafadz Laailaaha illalloh,
Ma’rifatulloh dan Muqarabah?
C. TUJUAN MASALAH
1. Mengetahui
pengertian tauhid dan ilmu tauhid.
2. Mengetahui
macam-macam tauhid.
3. Mengetahui
makna dari lafadz Laailaaha illalloh,
Ma’rifatulloh dan Muqarabah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tauhid dan Ilmu Tauhid
1. Pengertian
Tauhid
Kata
“tauhid” di dalam bahasa Arab berasal dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan, yang artinya menjadikan (sesuatu)
satu-satunya. Kata tersebut berasal dari kata wahidun yang berarti satu atau tunggal. Adapun menurut istilah
adalah menyendirikan atau mengesakan Allah dalam beribadah. Adapun pengertian
secara lebih luas lagi adalah menyendirikan atau mengesakan Allah dalam hal-hal
yang merupakan kekhususan bagi Allah, baik dalam rububuiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya,
maupun nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta tidak ada sekutu bagi Allah dalam
semua hal tersebut.
Istilah
tauhid sendiri tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Al-Qur’an dan hadis,
tetapi dari ayat-yat Al-Qur’an dan hadis Nabi menyerukan pada pengakuan keesaan
Allah maka muncullah istilah tauhid ini. Tidak diketaui pula siapa yang
mempopulerkan istilah ini. Imam bukhari dalam kitab sahihnya mencantumkan salah
satu bab berjudul ‘kitab at-Tauhid’. Hal ini berarti kata tauhid telah dikenal
sebelum atau pada masa Imam Bukhari (194 - 256 H).
2. Pengertian
Ilmu tauhid
Ilmu
tauhid adalah ilmu yang membicarakan keesaan Allah dan hal-hal yang terkait
dengannya. Ilmu ini berkaitan dengan pembahasan tentang penetapan akidah yang
diambil dari dalil-dalil yang diyakini, yaitu Al-Qur’an dan hadist serta dalil
naqli.[1]
Para ulama memiliki istilah yang beragam tentang ilmu ini berikut adalah
beberapa nama yang digunakan oleh para ulama untuk menyebut ilmu tauhid.
a. Ilmu
Aqa’id. Dinamakan Aqa’id karena ilmu ini membicarakan tentang akidah atau
kepercayaan.
b. Ilmu
Kalam. Disebut demikian
karena persoalan akidah yang dulu sering dipersilisihkan oleh para ulama adalah
masalah kalamullah, apakah ia bersifat qodhim atau baru.
c. Ilmu
sifat. Disebut demikian karena ilmu ini mempelajari sifat-sifat Allah yang
wajib diketahui oleh setiap muslim.
d. Ilmu
Ushuluddin. Dinamakan demikian karena ia membicarakan persoalan-persoalan pokok
(usul) dalam agama, yaitu soal keimanan.
e. Ilmu
ma’rifat. Disebut demikian karena ilmu ini berkaitan dengan Allah dan
rasul-Nya.
f. Fikih
Akbar. Imam Abu Hanifah menamai pembahasan tentang akidah dengan sebutan fikih akbar. Abu Hanifah
menamai istilah tersebut karena pada masanya semua kegiatan intelektual agama
disebut dengan fikih.
3. Kedudukan
Tauhid.
Prinsip
tauhid tidak bisa dipisahkan dari ajaran islam karena tauhid adalah inti ajaran
islam, bahkan islam sendiri. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Katakanlah
(Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat
(pegangan) yang sama antara kami dan kamu bahwa kita tidak menyembah selain
Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan bahwa kita
tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah.” Jika mereka
berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah bahwa kami adalah orang
muslim.” (QS. ali-Imron/3: 64)
Ayat
ini menerangkan bahwa orang yang menjadikan tauhid sebagai agamanya adalah
orang yang berhak menyandang gelar sebagai seorang muslim, bukan orang yang
menolaknya karena menolak tauhid sama saja menolak Islam sebagai agamanya.[2]
Tauhid
juga merupakan misi utama dari dakwah para nabi dan rasul yang diutus oleh
Allah.
Mengenai
inti dakwah Nabi Nuh a.s., Allah berfirman:

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia
berkata). “Sungguh, aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu agar
kamu tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kamu akan ditimpa
azab (pada) hari yang sangat pedih.” (QS. Hud/11: 25-26)
Mengenai inti dakwah Nabi
Ibrahim a.s., Allah berfirman:

Artinya: “Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada
kaumnya, “Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu lebih
baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Ankabut/29; 16)
Dari
berbagai ayat diatas jelaslah bahwa tauhid merupakan inti dari risalah Islam
dalam kehidupan manusia. Tidak hanya untuk umat Nabi Muhammad, tetapi juga
untuk seluruh umat manusia.
B. Pembagian Tauhid
Berdasarkan pengkajian tentang dalil-dalil yang
menjelaskan tentang keesaan Allah SWT. Maka para ulama menyimpulkan adanya
pembagian tauhid. Secara umum, para ulama membagi tauhid ke dalam tiga bagian,
yaitu tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, tauhid al-asma’ wa as sifat.
1.
Tauhid
Rububiyyah
Rububiyyah
berasal dari perkataan rabb. Kata ini mempunyai beberapa arti
seperti pemimpin, pemilik, penguasa dan pemelihara. Adapun yang dimaksud tauhid rububiyyah adalah meyakini Allah
SWT dalam kejadian-kejadian yang hanya bisa dilakukan oleh Allah serta
menyatakan dengan tegas bahwa Allah adalah Rabb,
Raja, dan Pencipta semua makhluk, dan Allah-lah yang mengatur dan mengubah
keadaan mereka.
Allah-lah yang memelihara makhluk-Nya dan memberikan
hidup serta mengendalikan segala urusan. Dia yang memberikan manfaat dan masfadat (kerusakan), menganugerahkan
kemuliaan dan kehinaan.[3]

Artinya : Wahai manusia, Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan
orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. (Dialah) yang menjadikan
bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dialah yang
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu
buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan
tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahuinya. (Q.S.
al-Baqarah : 21-22).
2.
Tauhdi
Uluhiyyah
Istilah ulihiyyah
berasal dari kata ilah yang
berarti Tuhan yang patutu di sembah. Yang dimaksud dengan tauhid uluhiyyah adalah mengesakan Allah dalam penyembahan dan
peribadatan. Segala bentuk penyembahan dan peribadatan, baik yang zahir maupun
batin, tidak boleh ditujukan kepada selain Allah, termasuk berdo’a, cinta,
takut dan tawakal. Tauhid uluhiyyah ditegaskan
dalam Al-Qur’an dalam firman Allah :

Artinya
: Maka ketahuilah, bahwa tidak ada tuhan
(yang pasti disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas
(dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat
usaha dan tempat tinggalmu . (Q.S. Muhammad : 19)
Jadi, seorang yang bertauhid uluhyyah hanya menyerahkan semua ibdahnya kepada Allah semata,
tidak kepada yang lain. Sedangkan orang kafir jahiliah, selain beribadah kepada
Allah, mereka juga memohon, berdo’a dan beristighasah kepada selain Allah.
Inilah yang diperangi Rasululullah SAW karena ajaran para nabi dan Rasul utusan
Allah adalah tauhid.
3.
Tauhid
al-Asma’ wa as-Sifat
Tauhid al-Asma’
wa as-Sifat adalah mengesakan Allah SWT. Dalam penetapan nama dan sifat
Allah, yaitu sesuai dengan yang Dia tetapkan bagi diri-Nya dalam al-Qur’an dan
hadits.[4] Cara bertauhid al-Asma’ wa as-Sifat ialah dengan
menetapkan nama dan sifat Allah sesuai yang Allah tetapkan bagi diri-Nya serta
menafikan nama dan sifat yang Allah nafikan dari diri-Nya, tanpa tahrif, ta’til, takyif dan tasbyih Allah SWT berfirman :

Artinya
: Dan Allah memiliki asmaul husna
(nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama
asmaul husna tersebut. . . . (Q.S. Al-A’rof : 180)
a.
Tahrif adalah memalingkan makna ayat atau hadits tentang
nama atau sifat Allah dari makana zahir menjadi
makna yang batil.
Contoh
: menafsirkan gadab (murah) dengan iradatul intiqam (keinginan untuk balas
dendam), rahmah (kasih sayang) dengan
iradatul in’am (keinginan untuk
memberi nikmat), al-yadu (tangan)
dengan an-ni’mah (nikmat), dan kata istiwa’ yang artinya bersemayam
dipalingkan menjadi menguasai.
b.
Ta’til adalah mengingkari dan menolak sebagian sifat Allah.
Sebagian orang menolak bahwa Allah berada di atas langit dan berkata bahwa
Allah di mana-mana.
c.
Takyif adalah menggambarkan hakikat wujud Allah, padahal
Allah sama sekali tidak serupa dengan makhluk-Nya sehigga tidak ada makhluk
yang mampu menggambarkan hakikat wujud-Nya. Misalnya sebagian orang berusaha
menggambarkan bentuk tangan Allah atau bentuk wajah Allah.
d.
Tasybih adalah menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat
makhluk-Nya, padahal Allah telah berfirman :

Artinya : (Dia) pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jjenis
kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan
(pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.
(Q.S. Asy-Syuro : 11)
Selain pembagian
tauhid di atas, ada juga pembagian tauhid lain yang dikemukakan oleh para
ulama, di antarannya pembagian tauhid menjadi empat macam, yaitu:
1.
Tauhid
Dzat (keesaan dzat) artinya bahwa Dzat Allah itu satu, tidak tersamai dan tidak
ada tandingannya. Semua eksistensi lain adalah makhluk ciptaan-Nya. Semua
eksistensi selain Allah, posisi dan derajat kesempurnaannya jauh di bawah
Allah.
2.
Tauhid
Sifati (keesaan sifat) yaitu sifat-sifat Allah seperti Maha Mendengar, Maha
Melihat, Maha Berkuasa dan yang lainnya bukanlah realitas-realitas yang
terpisah dari Zat Allah, melainkan identik dengan Zat Allah dan merupakan
manifestasi dari Zat Allah.
3.
Tauhid
Af’ali yaitu semua perbuatan termasuk perbuatan manusia, ada dan terjadi karena
kehendak Allah.
4.
Tauhid
Ibadi (keesaan ibadah) yaitu selain Allah, tidak ada yang berhak dan patut
disembah serta diibadahi. Menyembah atau beribadah kepada selain Allah adalah
perbuatan syirik (menyekutukan Allah) dan di luar batas tauhid Islam.
Tauhid zati dan
ibadi merupakan bagian dari aqidah utama umat Islam. Artinya jika seseorang
kurang atau tidak mengimani kedua prinsip ini, ia telah keluar dari Islam.
Tidak ada satu orang muslim pun yang menentang prinsip ini.
C. Makna Laailaaha illalloh, Ma’rifutllah dan Muraqabah
1. Laailaaha
illalloh
Laailaaha illalloh merupakan dakwah
semua rasul AS dari Adam, Nuh sampai Muhammad SAW. Sikap orang-orang jahiliyah
dalam mengantisipasinya juga sama yaitu tidak berubah, tetap menolak,
menghalang-halangi, berpaling dan menyingkir.[5]
Mengetahui
makna kalimat yang mulia ini merupakan salah satu prinsip yang sangat mendasar
pada ‘aqidah seorang muslim. Karena jika seseorang mengucapkan kalimat tauhid
ini maka dia tidak akan bisa melaksanakan konsekuensinya sebelum mengetahui apa
maknanya serta dia tidak akan mendapat berbagai keutamaan kalimat yang mulia
ini.
Keutamaan
kalimat laailaaha illalloh adalah “Barang siapa yang meninggal dalam keadaan
mengetahui bahwa sesungguhnya tiada sembahan yang berhak disembah kecuali Allah
maka akan masuk Surga” (HSR. Bukhari)[6]
a.
Makna kalimat tauhid laailaaha illalloh
Laailaaha illalloh adalah kalimat yang terdiri dari 4 kata,
yaitu : laa, ilaha, illa, Allah. Adapun
secara bahasa bisa kita uraikan secara ringkas sebagai berikut:
1. Laa adalah nafiyah lil jins (Meniadakan
keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan
orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu
menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam
kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan
yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
2. bermakna ma`luh yang artinya adalah
ma’bud (yang diibadahi). Karena Ilaah adalah mashdar (kata dasar) yang bermakna
maf’ul (obyek) sehingga aliha maknanya adalah ‘abada sehingga makna ma’luh
adalah ma’bud. Hal ini sebagaimana dalam bacaan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma
terhadap ayat 127 pada surah Al-A’raf:
“Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Fir’aun): “Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya
untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta
ilahatahmu (peribadatan kepadamu)?”.Ilahataka (ilahatahmu) yaitu
peribadatan kepadamu, karena Fir’aun itu disembah dan tidak menyembah. Hal ini
menunjukkan bahwa Ibnu ‘Abbas memahami bahwa kata Ilahah artinya adalah Ibadah
3. Illa (kecuali). Pengecualian di sini
adalah mengeluarkan kata yang terletak setelah illa dari hukum kata yang telah dinafikan
oleh laa. Misalnya dalam contoh di atas laa rajula fid dari illa Muhammad,
yaitu Muhammad (sebagai kata setelah illa) dikeluarkan (dikecualikan) dari
hukum sebelum illa yaitu peniadaan semua jenis laki-laki di dalam rumah,
sehingga maknanya adalah tidak ada satupun jenis lakilaki di dalam rumah
kecuali Muhammad. Jika diterapkan dalam kalimat tauhid ini makna maknanya
adalah bahwa hanya Allah yang diperkecualikan dari seluruh jenis ilah yang
telah dinafikan oleh kata laa sebelumnya..
4. Lafadz “Allah” asal katanya adalah
Al-Ilah dibuang hamzahnya untuk mempermudah membacanya, lalu lam yang pertama
diidhgamkan (digabungkan) pada lam yang kedua maka menjadilah satu lam yang
ditasydid dan lam yang kedua diucapkan tebal sebagaimana pendapat Imam
Al-Kisa`i dan Imam AlFarra` dan juga pendapat Imam As-Sibawaih. Adapun
maknanya, berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim dalam Madarij As-Salikin (1/18) : “Nama
“Allah” menunjukkan bahwa Dialah yang merupakan ma’luh (yang disembah) ma’bud
(yang diibadahi). Seluruh makhluk beribadah kepadanya dengan penuh kecintaan,
pengagungan dan ketundukan”.
2.
Muraqabah
Muraqabah berarti adanya keyakinan
seseorang yang kuat akan adanya pantauan Allah SWT terhadap segala
gerak-geriknya. Kesadaran itu lahir dari keimanannya bahwa Allah SWT dengan sifat’ilmu,
bashar dan sama’ (mengetahui, melihat, dan mendengar)-Nya mengetahui apa saja yang dia lakukan kapan dan dimana saja.
Dia mengetahui apa yang dia pikirkan dan
rasakan. Tidak ada satupun yang luput dari pengawasan-Nya.
Allah SWT
berfirman:

Artinya : “Dan
pada sisi Allah, kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya
kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang didaratan dan di lautan, dan
tiada sebelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak
jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau
kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Laul Mahfudz)”
(QS Al-An’am : 59
Dengan muraqabah, manusia menyadari keikutsertaan
(ma’iyah) Allah dalam setiap langkahnya. Dengan pemahaman seperti ini maka segala
niat buruk atau aktualisasinya akan dicegah oleh sistem muraqabah dalam
dirinya. Misalnya, kalau mau, siapapun bisa berbohong kepada sesamanya, namun
siapa yang sanggup berbohong kepada Allah dzat yang Maha Melihat dan Maha
Cermat? Tingkatan muraqabah yang paling tinggi ialah al-Ihsan, yang maknanya
dijelaskan oleh Nabi SAW sebagai berikut :“... bahwa engkau menyembah Allah
seakan-akan engkau melihatnya, Kalau engkau tidak melihatnya (ketahuilah) bahwa
sesungguhnya dia melihatmu”
Kalau kesadaran seperti ini telah ada dalam hati,
namun dipatahkan oleh diri sendiri maka menurut Rasulullah SAW manusia seperti
ini mengalami degradasi iman yang sangat tajam. Beliau SAW bersabda. “...dan
tidaklah mencuri seseorang, bila saat mencuri ada iman di hatinya” (HR Bukhari)
Dengan demikian, muraqabah merupakan mekanisme
pengendalian diri yang paling efektif dan sempurna, karena energi positif ini
datangnya dari dalam diri, bukan kekuatan luar yang dipaksakan, atau sistem
buatan manusia yang dipasang dengan tekanan. Bahkan bukan sekadar built in mechanism
dalam diri sebagaimana sudah banyak diterapkan di negara-negara maju. Namun
pelaku muraqabah adalah orang
yang melakukannya dengan segala rasa cinta (al-Hubb), harap (ar-Raja’), cemas
(al-Khauf) dan rindu (asy-Syauq) dan tentu saja keyakinan yang mendalam akan
pertemuan dengan Tuhannya (al-Iman), serta rasa kasih sayang kepada setiap
makhluq (asy-Syafaqah). Dimensi ukhrawinya jauh lebih dominan dibanding dimensi
duniawi.
Manusia yang bermuraqabah beriman sepenuhnya kepada
perkataan Allah: 

“Jika kamu
melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya Allah Maha
mengetahui segala sesuatu. (QS al-Ahzab: 54)
Dengan bekal keimanan yang kuat maka setiap datang
bisikan dari syaitan untuk bermaksiyat kepada Allah dalam segala bentuknya, maka
segera cahaya iman dalam hatinya akan memberi sinyal peringatan untuk menolak
bisikan tersebut. Sebaliknya setiap kali ada peluang untuk berbuat kebajikan,
sinyal hidayah dari hati akan mendorongnya untuk mengaktualisasikannya. Inilah
puncak dari al-ihsan yang telah mengakar dalam kalbu. Bak kisah pengembala
kecil yang menolak menjual kambing gembalaan milik tuannya kepada Umar bin
Khattab, dengan pertanyaan yang mengejutkan Umar: “Dimanakah Allah, Tuan?” (HR
Thabrani).
3. Ma’rifatulláh
Secara teoretis, ma’rifatulláh bisa dicapai dari berbagai bidang studi
keilmuan, misalnya ilmu filsafat, ilmu ushuluddin (teologi), ilmu akhlak, ilmu
syara' (fiqh), dan ilmu taṣawwuf. Jadi, sebenarnya ma’rifatulláh bukan monopoli
para ṣūfī. Di kalangan para ṣūfī, ma’rifatulláh adalah puncak pencapaian żikir
kepada Alláh yang memberi pengaruh besar kepada jiwa seseorang dan tercermin
pada ke salehan-kesalehan hidupnya. Orang yang berżikir akan merasakan
nikmatnya żikir sehingga hidupnya tidak lagi mau berpaling dari Alláh atau
membelakangi tuntunan-Nya. Kalau para ahli taṣawwuf mengaku memperoleh
ma’rifatulláh melalui pengetahuan batinnya, maka para ahli filsafat berpendapat
bahwa ma’rifatulláh itu dapat diperoleh dengan pengetahuan akalnya. Para ahli
tauhid berpendapat bahwa ma’rifatulláh itu dapat diperoleh dengan
keimanan-ketauhidan yang murni kepada Alláh.
Sedangkan menurut para ahli akhlak, ma’rifatulláh itu dapat dicapai dengan
amal shaleh. Menurut para ahli syara', ma’rifatulláh dapat dicapai dengan
menjalankan syariat yang benar. Bila demikian halnya, ma’rifatulláh yang paling
komplit adalah ma’rifatulláh yang dapat dicapai melalui semua pengetahuan yang
ada, baik pengetahuan akal, maupun pengetahuan batin, kemurnian iman-tauhid,
kebaikan akhlak dan melalui syariat yang benar. Sebab orang yang mengenal Alláh
dengan akalnya pasti membuat keyakinannya kepada Alláh amat kokoh dan bisa
dibuktikan secara rasional serta tidak dapat dipatahkan oleh keunggulan ilmu
pengetahuan apa pun di muka bumi ini.
Bila ia kemudian mengenal Allah
dengan batinnya, maka bertambah mantap dan kuatlah pengenalannya karena apa
yang selama ini diyakini kebenarannya oleh akalnya dapat dirasakan kebenarannya
oleh batinnya. Hatinya merasakan kenikmatan dan kelezatan yang tak terlukiskan
karena merasa sangat dekat dengan Alláh, bahkan merasakan seakan-akan tidak ada
tabir antara dirinya dengan Alláh. Apalagi bila ma’rifatulláh juga dicapai
dengan akhlak, tauhid dan syariat yang benar. Para ulama taṣawwuf dan kaum
ṣūfīyah menempuh beberapa cara untuk mecapai tingkat tertinggi dalam ṣūfīyah,
atau ma’rifatulláh.
Delapan langkah
mencapai ma’rifatullah :
1.
Kodrat
Secara harfiah, meiliki arti “kuasa” atau “kekuasaan”, sehingga kodratullah
dapat diartikan sebagai kekuasaan Allah. Suatu kekuasaan yang tunggal atau
hanya satu-satunya, suatu kekuasaan yang “mutlak”.[7]
2.
Iradat
Secara harfiah iradat memiliki arti “kehendak”, sehingga iradat Allah
diartikan sebagai kehendak Allah. Suatu kehendak yang datang dari Yang Maha
Berkehendak atas segala sesuatu. Tidak ada kehendak yang lain selain
kehendak-Nya. Tidak ada kemauan yang lain selain kemauan-Nya. Tidak ada pelaku
yang lain selain pelaku-Nya. Dengan demikian, akal akan membenarkan bahwa hanya
Dia-lah yang berkehendak, hanya Dia-lah yang merencana, dan hanya Dia pula
sebagai pelaksana. Sebagaimana firmannya
Artinya : “Allah Pencipta
langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka
(cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" Lalu jadilah ia”. (QS Al-Baqarah (2): 117)
3.
Ilmu
Ilmu atau pengetahuan merupakan langkah ketiga yang harus dilalui oleh
seorang pencari Tuhan (salik). Manusia dituntut untuk menyadari bahwa ilmu yang
ada di dunia ini adalah ilmu Tuhan, milik Tuhan, dan pengetahuan Tuhsn.
Sesungguhnya ilmu Allah meliputi keseluruhan yang meliputi pada alam raya ini
karena semua berada dalam bingkai pengetahuan-Nya.
4.
Hayat
Diartikan sebagai hidup, Maha Hidup. Keyakinan bahwa Allah ada dan hidup,
maka harus menjadi keyakinan utama bagi kaum muslim. Dari sifat Maha
Pemurah-Nya, Allah tidak membiarkan para ciptaan-Nya mati kelaparan. Oleh
karena itu, Allah menyiapkan pula sarana dan prasarana untuk kelanjutan hidup
dan kehidupan para ciptaan-Nya tersebut. Artinya, Dia-lah sumber dari segala
kehidupan itu sendiri. Dia-lah yang menyiapkan rezekinya bagi semua makhluk
ciptaan-Nya, baik pada makhluk-Nya yang tampak maupun yang tidak tampak.[8]
5.
Sama’
Diartikan sebagai mendengar, suatu sifat wajib bagi Allah. Dia maha
mendengar atas segala sesuatu, bukan saja terbatas pada mendengar yang memang terdengar jelas bagi telinga
manusia, tetapi Dia mendengar pula yang halus yang tidak terdengar oleh
manusia, dan yang ada didalam lubuk hati manusia.
6.
Bashar
Diartikan sebagai “melihat”, sehingga “bashar Allah” diartikan sebagai
“penglihatan Allah” atau “pandangan/pandangan Allah”. Dalam arti lebih luas
bashar Allah sebagai “Allah Yang Maha Melihat, Allah Yang Maha Mengetahui,
ataupun Allah Yang Maha Menyaksikan”.
7.
Kalam
Ilmu kalam adalah ilmu yang membicarakan atau mengandung keterangan tentang
kalam Allah berupa firman-firman-Nya, yang kemudian tersampaikan kepada umat
manusia melalui para utusan-Nya. Melalui kalam inilah kemudian manusia mengenal
Tuhannya, mengenal kitab-Nya, mengenal rasul-Nya, mengenal seluk-beluk
ciptaan-Nya, mengenal kebaikan dan keburukan, mengenal dirinya, dan akhirnya
dapat men ghantarkannya mengenal Tuhannya.Kalam diartikan sebagai “percakapan”
atau “pembicaraan”. Dalam arti spesifik, kalam diartikan pula sebagai “kajian
tentang pembicaraan Tuhan”.
8.
Syariat
Syariat berasal dari asal kata syara yang diartikan memperkenalkan atau
mengedepankan ataupun menetapkan. Artinya, Allah telah memperkenalkan,
mengedepankan, dan menetapkan aturan main di dunia ini kepada makhluk
ciptaan-Nya yang disebut manusia, melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an Al-Karim bacaan
yang mulia”.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Tauhid adalah menyendirikan atau
mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, baik dalam
rububuiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, maupun nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta tidak
ada sekutu bagi Allah dalam semua hal tersebut. Sedangkan Ilmu tauhid adalah
ilmu yang membicarakan keesaan Allah dan hal-hal yang terkait dengannya. Ilmu
ini berkaitan dengan pembahasan tentang penetapan akidah yang diambil dari
dalil-dalil yang diyakini, yaitu Al-Qur’an dan hadist serta dalil naqli
Kedudukan tauhid jelaslah bahwa tauhid
merupakan inti dari risalah Islam dalam kehidupan manusia. Tidak hanya untuk
umat Nabi Muhammad, tetapi juga untuk seluruh umat manusia. Tauhid secara umum, para ulama membagi
tauhid ke dalam tiga bagian, yaitu tauhid rububiyyah,
tauhid uluhiyyah, tauhid al-asma’ wa as sifat. , ada juga
pembagian tauhid lain yang dikemukakan oleh para ulama yaitu tauhid dzat,
tauhid sifat, tauhid ibadi dan tauhid af’ali.
B. SARAN
Berdasarkan makalah
yang kami susun, kami dapat menyarankan kepada para pembaca agar dapat
mengetahui mengenai tauhid secara lebih mendalam. Dan kami pemakalah menyadari
masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, kami terbuka dengan kritik
dan saran yang membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Bin Sulaiman. 1994. Kebenaran Tauhid Wahabi. Surabaya:
Al-Ikhlas.
Hammad
Abu Muawwiyah. 2006. Jurnal Al-Atsariyah .Vol. 01.
Latifah,
Aenul. 2014. Paham Ilmu Kalam. Surakarta:
PT Tiga Serangkai Mandiri.
Quthub, Muhammad. 1987. Koreksi Atas Pemahaman Lailaha Illallah. Jakarta
Timur: Pustaka Al-Kautsar.
[1] Nok
Aenul Latifah dan Abdul Mutholib. Paham
Ilmu Kalam. (Surakarta: PT Tiga Serangkai Mandiri, 2014) hlm. 43
[3] Abdul Mutholib, Nok
Aenul Latifah. Paham Ilmu Kalam (Surakarta
: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2014) hlm. 47
[4] Ibid, hlm. 49
[5] Muhammad Qurthub. Koreksi Atas Pemahaman Lailaha Illalloh. (Jakarta Timur :
Al-Kautsar, 1987) hlm. 26
[6] Jurnal Al-Atsariyah
Vol. 01/Th01/2006
[7] Al-Kadiri, Choirul Anam.2010.8 Langkah Mencapai Ma’rifatullah.Jakarta:Sinar Grafika Offset. Hal.1
Komentar
Posting Komentar