Makalah Aliran Ahlisunah Salaf



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Islam adalah agama yang bersifat universal, karena setiap ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan. Kehadiran agama Islam dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Didalamnya terdapat petunjuk tentang bagaimana manusia menyikapi kehidupan secara lebih bermakna. Semua ajaran Islam terkodifikasi dalam Al-Qur’an, akan tetapi Al-Qur’an memerlukan penjelasan karena Al-Quran bersifat global. Oleh karena itu, penafsiran Al-Qur’an mengalami perbedaan oleh umat Islam karena versi penafsiran sesuai dengan situasi dan kondisi umat Islam yang berbeda-beda.
Perbedaan penafsiran tersebut yang membuat pola pikir aliran kalam berbeda, secara umum kerangka pikir para mutakalimin ada dua yaitu tradisional dan rasional. Mutakalimin yang berpola pikir tradisional adalah terikat dogma dan ayat yang mengandung arti zhanni (teks yang mengandung arti lain selain arti secara harfiah). Sedangkan mutakalimin yang berpikir rasional terikat dogma yang jelas dan tidak menginterpretasi ayat yang zhanni, mereka lebih mengutamakan akal.
Beragam jenis mutakalimin terdapat aliran Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (kaum yang berpegang teguh kepada sunnah dan kaum mayoritas), di dalamnya terdapat dua versi yang berbeda dalam mempertahankan ranah akidah yang dikenal dengan istilah salaf dan khalaf. Pada masa Ahlu Sunnah salaf dan khalaf banyak terjadi perselisihan antara ulama-ulama pada saat itu tentang ilmu kalam. Dan terkait masalah tersebut dan materi mata kuliah yang diberikan dalam bentuk makalah, maka makalah ini diberikan judul “Ahlussunnah Salaf dan Khalaf”.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah perkembangan aliran ahlussunnah salaf?
2.      Siapa tokoh aliran ahlussunnah salaf?
3.      Bagaimana ajaran pokok aliran ahlussunnah salaf?
4.      Bagaimana perkembangan aliran ahlussunnah khalaf?
5.      Siapa tokoh dan pemikiran ahlussunnah khalaf?
6.      Bagaimana perkembangan dan tokoh aliran asy’ariyah dan al-maturidiyah?
7.      Bagaimana ajaran pokok aliran asy’ariyah dan al-maturidiyah?
8.      Dalil al-Quran yang menjadi landasan masing-masing aliran?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui sejarah perkembangan aliran ahlussunnah salaf.
2.      Mengetahui tokoh-tokoh aliran ahlussunnah salaf.
3.      Mengetahui ajaran pokok aliran ahlussunnah salaf.
4.      Mengetahui perkembangan aliran ahlussunnah khalaf.
5.      Mengetahui tokoh dan pemikiran ahlussunnah khalaf.
6.      Mengetahui perkembangan dan tokoh aliran asy’ariyah dan al-maturidiyah.
7.      Mengetahui ajaran pokok aliran asy’ariyah dan al-maturidiyah.
8.      Mengetahui dalil al-Quran yang menjadi landasan masing-masing aliran.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah Perkembangan Ahlussunnah Salaf
Kata Salafiyah berasal dari kata kerja salafa, yaslufu, salafan yang berarti sudah berlalu, sudah lewat atau yang terdahulu. Jika dikaitkan dengan generasi maka generasi terdahulu atau disebut generasi salaf. Pemikiran Islam umat terdahulu atau generasi pertama Islam disebut Al-Salaf Al-Shalih. Masa salaf adalah masa yang paling murni perkembangan Islam karena belum dimasuki interpretasi-interpretasi filosofis akibat masuknya pengaruh Hellenisme ke dunia Islam lewat filsafat. Gerakan Hanabilah yang memberi istilah Salaf pada abad ke-4 H dengan mempertalikan dirinya kepada pendapat-pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang menghidupkan dan mempertahankan pendirian Ulama Salaf. Masa Salaf adalah masa Nabi, Sahabat dan Tabi’in yang Al-Tsalatsah Al-Ula.[1] Dalam sejarah Islam generasi ini dikenal sebagai Al-Sabiqun Al-Awwalun, hal ini diisyaratkan oleh Al-Quran dalam surah At-Taubah (09):100

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠
100. Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.
Ayat diatas menegaskan bahwa orang-orang yang disebut Al-Sabiqun Al-Awwalun adalah orang Muhajirun dan Anshor serta orang-orang yang datang sesudah mereka dengan mengikuti mereka dengan baik. Mereka itu ridha kepada Allah dan Allah meridhai mereka. Untuk itu Allah menyiapkan kenikmatan surga yang tiada tara. Pernyataan Allah tersebut memberikan garansi bahwa generasi pertama itulah generasi murni yang diliputi keridhaan Allah.
Abad ke-7 H gerakan Salaf mendapat dorongan baru yang muncul dari seorang sangat energik dari Siria yaitu Ibnu Taimiyah (661-728). Beliau menggalang kekuatan dan kesatuan umat saat kota Damaskus diserang dan dikepung oleh tentara Mongol tahun 700 H. Abad ke-12 H pemikiran Salaf dibangkitkan kembali oleh tokoh pemikir dan pergerakan dari Hijaz yaitu Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang mendengungkan semangat untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni bersumber dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.  Diluar gerakan ini mereka diberi nama Wahabiyah. Mereka sendiri memberi nama dengan Al-Muwahhidun (orang yang mentauhidkan Allah).
Pada masa kini muncul Salafiyah yang kecenderungan untuk kembali ke masa murni Islam dengan meneladani kehidupan Rasulullah SAW, bukan hanya pada ajaran yang dibawanya tetapi perilaku sehari-hari Rasulullah SAW. Seperti memelihara jenggot, memakai gamis, menghindari berpakaian khulaya (pakaian yang berjela-jela) dengan cara memakai celana tidak menutup mata kaki. Selain itu amal-amal yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW harus ditinggalkan karena merupakan bid’ah.[2]
B.     Tokoh Aliran Ahlusunnah Salaf
1.      Imam Ahmad bin Hanbal
Nama beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Asy Syaibani. Beliau dilahirkan di Baghdad tahun 164 H. Ayah beliau meninggal saat beliau berumur 3 tahun. Lalu beliau diasuh oleh Ibunya. Saat masih belia, beliau menghadiri majelis qadhi Abu Yusuf. Kemudian beliau fokus belajar hadits. Saat itu umur beliau sekitar 16 tahun. Kemudian beliau haji beberapa kali, kemudian tinggal di Makah dua kali. Kemudian beliau safar menemui Abdurrozaq di Yaman dan belajar darinya. Beliau telah berkelana ke negeri-negeri dan penjuru dunia. Beliau mendengar hadits dari ulama-ulama besar saat itu. Mereka (para ulama) bangga dan memuliakan beliau. Ibnu Jauzi berkata, “Ahmad (bin Hanbal) semoga Allah meridhoinya menuntut ilmu dari para masyayikh di Baghdad. Lalu beliau pergi ke Kufah, Bashroh, Makah, Madinah, Yaman, Syam dan Jazirah. Beliau menulis dari para ulama setiap negeri
Imam Ahmad memiliki ilmu yang sangat luas. Berikut ini beberapa perkataan ulama tentangnya. Ibrahim al Harbiy rahimahullah berkata, “Saya melihat Ahmad bin Hanbal seolah-olah Allah mengumpulkan pada dirinya ilmu orang yang terdahulu dan yang terakhir pada setiap bidang ilmu. Dia berkata sesuai yang dikehendakinya dan menahan yang dikehendakinya.[3]
2.      Ibn Taymiyyah
Pemikir pertama Aliran Salaf adalah Ibn Taymiyyah. Nama lengkapnya adalah Ahmad Taqiyy al-Din Ibn Taymiyyah al-Harrani al-Dimasyqi, lahir di Harran, Syiria tahun 661 H(1263 M), wafat pada 782 H(1328 M). Ayahnya adalah seorang guru Hadis dan pamannya seorang ulama dan penulis yang termasyhur di zamannya. Pada usia tujuh tahun, Harran diserang oleh Mongol, ia dan orang tuanya mengungsi ke Damaskus. Disinilah Ibn Taymiyyah mengawali penggambaran intelektualnya, ia belajar pada beberapa madrasah yang diselenggarakan oleh penganut mazhab Hanbali, seperti madrasah Sakariyah, madrasah Jauziyah dan madrasah Umayyah.
Ketekunan belajar dan ketajaman otaknya dalam berpikir mengantarkan Ibn Taymiyyah sebagai seorang ulama, beliau sangat berani dan tidak takut apa yang yang dipandangnya benar. Lidah dan penanya sangat tajam dalam menyerang berbagai agama baik dalam bidang teologi, filsafat, tasawuf, dan fiqh yang dianggapnya bid’ah dan tidak berdasar pada nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang shahih. Ibn Taymiyyah sebagai pengajar tradisi Hambali menekankan kajian literasi terhadap nash-nash agama. Ibn Taymiyyah berseru untuk kembali kepada akidah dan ibadah salaf.[4]
C.    Ajaran Pokok Aliran Ahlusunnah Salaf
Aliran Salafiyah mempunyai tiga ciri utama dalam ajaran pokoknya yaitu Pertama, mendahulukan syara’ dari akal. Yang terkandung di dalam Al-Quran dan Hadis yang shahih adalah kebenaran. Seorang Muslim tidak boleh menyampingkan kandungan Al-Quran dan Hadis walaupun bertentangan dengan akal dan ketentuan syara’ harus didahulukan dari pendapat akal. Kedua, meninggalkan takwil kalami. Dalam Aliran Salafiyah ayat-ayat Al-Quran sudah sangat jelas tidak perlu diputar lagi maknanya kepada yang lain. Beberapa ayat Al-Quran memberikan gambaran Allah mempunyai tangan, wajah dan kursi. Aliran Salaf menolak penakwilan kalam seperti itu karena mencederai Al-Quran itu sendiri. Ketiga, berpegang teguh pada nash Quran dan Hadis Nabi. Karena akal manusia tidak mempunyai wewenang untuk menakwilkan nash agama dan tugas akal mencari argumentasi serta membenarkan informasi yang dibawa oleh nash agama. Akal harus tunduk dibawah nash, karena nash adalah firman Allah.[5]

D.    Sejarah Perkembangan Ahlussunnah Khalaf
Khalaf secara harfiah berarti pengganti, dibelakang, atau dapat juga yang ditinggalkan. Menurut Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah ji menyatakan bahwa ulama khalaf berarti ulama pasca tabi’ at-tabi’in.[6] menurut pendapat yang lain ulama khalaf ialah suatu golongan dari umat islam yang mengambil filsafat sebagai patokan amalan agama dan meninggalkan jalannya salaf dalam memahamami al-Quran dan hadist.[7] Ulama Khalaf menggunakan pendekatan akal dan logika. Ulama khalaf memperkenalkan konsep ta’wil dalam ayat mutasyabihat. Kholaf (ulama zaman akhir) berdasarkan perhitungsn tahun masa akhir hidup dari Imam madzhab 4 yang terakhir ( Imam Ahmad bin Hanbal) yang wafat pada tahun 241H atau 855M maka masa ulama salaf berakhir sekitar tahun 241H-855M dan selebihnya termasuk ulama khalaf.[8]
Adapun pendapat yang lain mengatakan bahwasannya masa perubahan atau batas antara abad ulama salaf dan khalaf dibatasi dengan masa atau kurun tertentu sebagaimana beberapa pendapat yang berbeda-beda dibawah ini:
1.      Ulama salaf ialah ulama yang hidup sebelum tahun 300 H dan ulama khalaf ialah ulama yang hidup setelah tahun 300 H.
2.      Ulama salaf ialah ulama yang hidup sebelum tahun 00 H dan ulama khalaf ialah ulama yang hidup setelah tahun 400 H.
3.      Ulama salaf ialah ulama yang hidup sebelum tahun 500 H dan ulama khalaf ialah ulama yang hidup setelah tahun 500 H.

E.     Tokoh Dan Pemikiran Ahlusunnah Khalaf
1.      Al-Asy’ari
Namanya Abu al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari, dilahirlan di kota basrah (irak) pada tahun 260 H/873 M dan wafat pada tahun 324  H/935 M, keturunan Abu Musa al-Asy’ari seorang sahabat dan perantara dalam sengketa Ali dan Muawiyah dalam peristiwa tafkhim. Pada usia lebih dari 40 tahun, ia hijrah ke kota Baghdad. Ayahnya adalah seorang yang berfaham ahlussunnah dan ahli hadist. Ayahnya wafat ketika ia masih kecil. Sebelum wafat ayahnya berwasiat kepada seorang sahabatnya yang  bernama Zakaria bin Yahya as-Saji agar mendidik al-Asy’ari. Ibu Asy’ari  sepeninggal ayahnya menikah lagi dengan tokoh Mu’tazilah yang bernama al-Juba’i. Berkat didikan ayah tirinya, Asy’ari kemudian menjadi tokoh Mu’tazilah. Ia sering menggantikan al-Juba’i dalam perdebatan menentang lawan-lawan Mu’tazilah dan ia juga banyak menulis buku yang membela aliran Mu’tazilah.  Tetapi, karena sebab yang tidak begitu jelas Asy’ari akhirnya meninggalkan aliran mu’tazilah. Suatu malam beliau bermimpi bertemu Nabi Muhammad dan mengatakan kepadanya bahwa ahli hadistlah yang benar dan aliran mu’tazilah itu salah. Sebab lain karena beliau berdebat tentang dengan ayahnya mengenai kedudukan orang mukmin, kafir, dan anak kecil diakhirat. Juba’i atau ayah tiri beliau tidak mampu menjawab pertanyaannya. Menurut imam Mahmud Subhi, keraguan itu timbul karena Al-Asy’ari menganut madzab  as-Syafi’i yang mempunyai pendapat teologo yang berlainan dengan ajaran-ajaran Mu’tazilah, misalnya asy-Syafi’i berpendapat bahwa al-quran tidak diciptakan tetapi bersifat qadim dan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat nanti. Al-Asy’ari meninggalkan mu’tazilah ketika golongan ini sedang di masa kemunduran dan kelemahan.[9] Beberapa faktor yang menguntungkan bagi Al-Asy’ari sehingga beliau dapat mengalahkan aliran mu’tazilah:
1.      Masa itu kaum muslimin sudah bosan menghadapi perdebatan dan pertentangan tentang persoalan Al-Qur’an khususnya yang dicetuskan oleh aliran mu’tazilah
2.      Al-Asy’ari sorang yang ulung dalam perdebatan dan mempunyai ilmu yang mendalam, dikenal pula sebagai orang sholeh dan bertaqwa sehingga banyak masyarakat mendapat yang mempercayainya
3.      Pemerintah telah meninggalkan aliran mu’tazilah sejak 232 H. mayoritas orang mengikuti faham pemerintahnya dan takut memeluk faham yang tidak disukai pemerintah tersebut.
4.      Al-Asya’ri memiliki pengikut-pengikut yang kuat yang selalu menyebarkan ajaran-ajarannya serta memberinya alas an.
5.      Penggantian Bani Buwaihi yang bercorak syi’ah dengan sakjuk turki yang bercorak sunni dan menyokong aliran ahlussunnah wal jamaah, yang mempunyai seorang menteri yang pandai dan kuat, yaitu Nizam al-Mulk, diantara usahanya ialah mendirikan sekolah dan mengumpulkan orang-orang yang pandai untuk mengajarkan faham ahlussunnah wal jamaah.
Karya al-Asy’ari sangatlah banyak, kurang lebih 90 buah dalam berbagai lapangan ilmu keislaman. Karangan yang terkenal dan sampai kepada kita ada tiga, yaitu:
a.       Mawalatul Islamiyah: (pendapat golongan-golongan islam), yang merupakan buku pertama, dikarang dalam soal-soal kepercayaan Islam dan menjadi sumber yang penting pula, karena ketelitian dan kejujuran pengarangnya. Buku ini, terdiri dari tiga bagian:
1)      Tinjauan tentang golongan-golongan dalam Islam.
2)      Aqidah aliran “Ashabul Hadist dan Ahlusunnah,” dan
3)      Beberapa persoalan ilmu kalam
b.      Al-Ibanah ‘an Usulid Diyanah: (penjelasan tentang dasar-dasar agama) yang berisi uraian tentang kepercayaan (aqidah) Ahlusunnah dan dimulainya dengan memuji imam Ahmad bin Hambal, kemudianmenyebutkan kebaikan-kebaikannya dan menyatakan memegangi pendapat-pendapatnya. Uraian buku ini tidak tersusun rapi,meskipun berisi persoalan-persoalan yang banyak dam penting. Dalam buku ini beliau dengan pedas menyerang aliran mu’tazilah.
c.       Al-Luma’: (sorotan) yang dimaksudkan untuk membantah lawan-lawannya dalam beberapa persoalan ilmu kalam.
Pemikiran al-Asy’ari dapat diketahui lewat karyanya seperti Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, Kitab al-Luima’ fi al-Radd ‘ala Ahl al-Ziyagh wa al-Bida’ dan Al-Ibanah ‘an al-Ushul al-Diyanah. Lewat buku-buku tersebut dilanjutkan oleh murid-muridnya seperti al-Baqillani dan al-Juwaini, tesis-tesis baru yang dikembangkan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari berkembang menjadi aliran baru yang dikenal dengan nama Asy’ariyah. Dalam kupasan tentang pandangan orang-orang sesat serta ahli bid’ah yang dimaksudkan oleh Asy’ari adalah kaum Muktazilah dan Qadariyah.[10]
2.      Al-Maturidi
Namanya abu Mansur al-Maturidi dilahirkan di Maturid, kota kecil di daerah Samarqand, wilayah Transoxiana di Asia Tengah, daerah yang sekarang disebut Uzbekistan. Ia wafat pada tahun 333 H/944 M. gurunya dalam bidang fiqh dan teologi bernama Nasyr bin Yahya al-Balakhi. Al-Maturidi hidup masa khalifah al-Mutawakkil yang memerintah tahun 232-274 H/847-861 M.
Al-Maturidi mengikuti madzhab Hanafi dan dalam teologi islam menganut pula aliran fuqoha dan muhadisin.  Perbandingan antara Abu Hanifah dan al-Matudiri dapat diperoleh informasi bahwa ternyata pemikiran al-Maturidi sebenarnya berintikan pemikiran Abu Hanifah dan merupakan penguraiannya yang lebih luas. Hubungan antara kedua tokoh tersebut dikuatkan oleh pengakuan al-Maturidi sendiri bahwa ia mempelajari buku-buku Abu Hanifah.
Pemikiran teologis al-Maturidi medasar pada Al-Qur’an dan akal.  Dalam hal ini, ia sama dengan al-Asy’ari namun porsi yang diberikannya kepada akal lebih besar daripada yang diberikan oleh Al-Asy’ari. Ini dikarenakan sebagai pengikut Abu Hanifah yang banyak memakai rasio dalam pandangan keagamaannya, al-Maturidi  banyak juga memakai akal dalam system teologisnya.
F.     Perkembangan Dan Tokoh Aliran Asy’ariyah Dan Al-Maturidiyah
1.      Perkembangan Al-Asy’ariah
Mendapat kedudukan yang tinggi, mempunyai banyak pangikut dan mendapat bantuan dari para penguasa pemerintahan. Pendapat-pendapatnya disebut “pendapat Ahlussunnah wal Jama’ah” atau “Ahlussunnah” (tanpa wal Jama’ah) dan sebutan ini banyak dipakai atau sebutan “Madzahibus Salaf Wa Ahlussunnah”.
Penyebutan Ahlussunnah sudah dipakai sejak jaman dahulu, terhadap mereka yang apabila menghadapi sesuatu peristiwa, maka dicari hukumnya dari bunyi Al-Qur’an dan Hadist. Apabila tidak didapatinya maka mereka akan diam saja, karena tidak berani melampauinya. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Ahlul Hadist yang sudah dimulai sejak zaman sahabat, kemudian dilanjutkan sampai masa tabi’in.
Kebalikan dari mereka ialah “Ahlul Ra’yi” yang apabila menghadapi keadaan yang sama, maka tidak berhenti, melainkan berusaha dengan akal pikirannya untuk menemukan hukum peristiwa yang dihadapinya dengan jalan qiyas atau istihsan sebagainya. Munculah aliran tengah-tengah yang dicetuskan oleh Imam Syafi’i. Meskipun sudah ada orang yang merasa terikat dengan Hadits dalam bidang fiqh, namun mereka tidak dikenal dengan sebutan Ahlussunnah. Mu’tazilah tidak segan-segan menolak hadits yang berlawanan dengan ketetentuan akal pikiran, maka timbulah aliran lain yang tetap memegangi dan mempertahankan hadits-hadits yang ditolak oleh Mu’tazilah, terkenal dengan nama “Ahlussunnah” dan ingin mengikuti jejak ulama salaf dalam menghadapi nash-nash mutasyabihat. Penyebutan Ahlussunnah wal Jama’ah oleh pengikut-pengikut Al-Asy’ari karena pemikiran-pemikirannya.[11]

2.      Tokoh-tokoh aliran Al-Asy’ariyah
Dalam aliran Al-Asy’ariyah ini mempunyai tokoh-tokoh kenamaan, antara lain: Al-Baqilani, Al-juwaimi, Al-Iji, As-Sanusi, Al-Ghazali, dan Al-Baghdadi. Diantara tokoh-tokoh diatas yang paling berpengaruh ialah al-Ghazali yang diberi gelar Hujjatul Islam. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Muhammad  bin Muhammad bin Ahmad Abu Hamid al-Ghazali. Ia lahir di Thus, suatu kota di Khurasan pada tahun 450 M. ayahnya seorang pekerja pembuat pakaian dari bulu (wol) dan menjualnya di pasar. Setelah ayahnya meninggal, ia diasuh oleh ahli tasawuf. Di waktu kecil ia belajar fiqh pada Syekh Ahmad bin Muhammad ar-Rasikani dan di Nishabur belajar pada Imam al-Haromain, di sini lah ia mulai kelihatan tanda-tanda ketajaman otaknya dengan menguasai ilmu mantiq (logika), filsafat dan fiqh madzhab Syafi’i. setelah imam Haromain wafat, ia pergi ke Al-Azhar berkunjung ke menteri Nizam al Mulk pemerintahan dinasti Saljuk. Setelah bertemu dengan ulama-ulama besar, akhirnya al-Ghazali diberi kehormatan guru besar (professor) dan mengajar di Perguruan Tinggi Nizamiyah Baghdad. Tahun 488 H beliau pergi ke Mekkah untuk menunaikan haji, sepulang dari mekah beliau pergi ke Syiria (Syam) dilanjutkan perjalanannyake Damaskus dan menetap cukup lama. Saat itu beliau sedang mengarang kitab Ihya’ Ulumuddin. Sepulangnya beliau dari Damaskus ia kembali ke Baghdad dan kembali mengajar di Perguruan Tinggi Nizamiyah. Tidak berlangsung lama, beliau kembali ke Thus, kampung halamannya. Di sebelah rumah beliau medirikan sekolah untuk para fuqoha dan mutashawwifin. Beliau meninggal pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H/1111 M. Sesaat sebelum beliau meninggal sempat mengucapkan kata yang juga diucapkan oleh Francis Bacon (Filosof Inggris), yaitu: “kuletakkan arwahku di hadapan Allah dan tanamkanlah jasadku di lipat bumi yang senyap. Namaku akan bangkit kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di masa mendatang.
Karya al-Ghazali berjumlah lebih dari 100 buah. Beberapa kitabnya seperti berikut: Maqhasidul falasifah (tujuan para ahli filsafat), Tahafut al-Falasifah (keberantakan para filosof), a-Munqidz min Dhalal (penyelamat dan kesesatan) dan Ihya’ Ulumuddin (menghidupkan ilmu-ilmu agama). Disamping itu ada pemahaman yang sama dengan beliau dan ada juga yang menentang beliau. Tokoh Barat yang  sepaham seperti Renan Cassanova dan Carro de Vaux. Sedangkan yang menentang seperti Ibnu Rusyd (dengan kitab Tahafut at-Tahafutut), Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim.[12] Adanya penyerangan dari Ibnu Rusyd karena al-Ghazali menentang para filoSof Islam, bahkan ia sampai mengkafirkan dalam 3 hal, yaitu:
a.       Pengingkaran tentang kebangkitan jasmani
b.      Membatasi pengetahuan Allah kepada yang hal-hal yang besar saja.
c.       Adanya kepercayaan tentang qadimnya alam dan keasliannya.
3.      Perkembangan Maturidiyah
Maturidiyah mengambil posisi ditengah-tengah antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah. Aliran al-Maturidiyah terbagi dalam dua aliran yaitu al-Maturidiyah Samarkand yang didirikan oleh Abu Mansur al-Maturidi sendiri, dan al-Maturidiyah Bukhara yang dibangun oleh pengikut Abu Yusr Muhammad al-Bazdawi. Al-Maturidiyah Samarkand lebih rasional dan cenderung ke paham al-Mu’tazilah sedangkan al-Maturidiyah Bukhara cenderung ke paham Asy’ariyah. Aliran al-Maturidiyah sebagai aliran yang rasional namun tetap berpijak pada al-Qur’an dan Sunnah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan pemikiran dunia islam. Hal ini sangat berpotensi untuk dikaji dan dikembangkan[13].

4.      Tokoh-tokoh aliran Maturidiyah
Yang sangat penting dari aliran Al-Maturidiyah ini adalah Abu al- Yusr Muhammad al-Badzawi  yang lahir pada tahun 421 Hijriyah dan meninggal pada tahun 493 Hijriyah. Ajaran-ajaran Al-Maturidi yang  dikuasainya adalah karena neneknya adalah murid dari Al-Maturidi. Al-Badzawi sendiri mempunyai   beberapa   orang   murid, yang  salah  satunya adalah Najm al-Din Muhammad al-Nasafi  (460-537   H),  pengarang buku al-‘Aqa’idal Nasafiah. Seperti Al-Baqillani dan Al-Juwaini, Al-Badzawi tidak pula selamanya  sepaham dengan Al-Maturidi. Antara kedua pemuka aliran Maturidiyah  ini, terdapat perbedaan paham sehingga boleh dikatakan bahwa dalam aliran Maturidiyah terdapat dua golongan, yaitu golongan Samarkand yang mengikuti paham-paham  Al-Maturidi dan golongan  Bukhara  yang mengikuti paham-paham Al-Badzawi.[14]


G.    Ajaran Pokok Aliran Asy’ariyah Dan Al-Maturidiyah
1)      Dokrin-dokrin teologi al-Asy’ari yang terpenting ialah sebagai berikut:
1.      Allah dan sifat-sifatNya
Sebagai penentang Mu’tazilah, sudah tentu al-Asy’ari berpendapat bahwa Allah mempunyai sifat. Mustahil kata al-Asy’ari Allah mengetahui dengan ZatNya, karena dengan demikian zatNya adalah pengetahuan dan Allah sendiri adalah pengetahuan. Menurut al-Asy’ari, Allah bukan pengetahuan (‘ilm) tetapi yang mengetahui (‘alim). Allah mengetahui denagn pengetahuan dan pengetahuanNya bukanlah zatNya. Demikian pula dengan sifat-sifat seperti hidup, berkuasa, mendengar, dan melihat.
2.      Kebebasan dalam berkehendak
Al-Asy’ari memakai istilah kasb (acquisition, perolehan) untuk menggambarkan hubungan perbuatan manusia dengan kemauan dan kekuasaan Allah. Arti kasb menurutnya adalah bahwa sesuatu itu terjadi dengan perantaraan daya yang diciptakan yang dengan dayanya perbuatan itu terjadi. Dengan kata lain, seuatu itu timbul dari al-muktasib (manusia yang menciptakan atau mengupayakan) dengan perantara daya yang diciptakan. Pendapat ini berdasarkan QS. Ash-Shaaffat : 96.
 وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ٩٦
96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu"
Al-Asy’ari menjelaskan soal kehendak Allah bahwa Allah menghendaki segala apa yang dikehendaki, artinya manusia tidak  dapat menghendaki sesuatu itu terjadi. Kehendak Maka bila Allah tidak menciptakan daya dalam diri manusia, dia tidak akan dapat berbuat apa-apa. karena itu daya untuk berbuat, sebenarnya bukanlah daya manusia tetapi daya Allah. Jadi perbuatan manusia itu  memerlukan dua daya, yaitu daya Allah dan daya manusia dan yang paling berpengaruh dan efektif adalah daya Allah.
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ٣٠
30. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
3.      Qadimnya al-Quran
Pendapat al-Asy’ari tentang qadimnya Al-Qura’an berlainan pula dengan pendapat kaum Mu’tazilah. Bagi al-Asy’ari al-Quran tidaklah diciptakan sebab kalau ia diciptakan maka sesuai dengan ayat:
إِنَّمَا قَوۡلُنَا لِشَيۡءٍ إِذَآ أَرَدۡنَٰهُ أَن نَّقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٤٠
40. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.
Untuk penciptaan itu perlu kata kun, dan untuk terciptanya kun itu perlu pula kata kun yang lain, begitulah seterusnya sehingga terdapat rentetan kata-kata kun yang sudah berkesudahan. Dan ini tak mungkin, oleh karena itu al-Quran tidak mungkin diciptakan.
4.      Akal dan Wahyu serta Kriteria Baik dan Buruk
Al-Asy’ari mengutamakan wahyu, sementara kaum mu’tazilah mengutamakan akal. Sementara dalam menentukan baik-buruk terjadi perbedaan pendapat diantara mereka. Al-Asy’ari berpendapat bahwa baik-buruk harus didasarkan oleh pada wahyu, sedangkan Mu’tazilah mendasarkannya pada akal.


5.      Melihat Allah
Al-Asy’ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak bisa digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Allah sendiri menciptakan kemampuan penglihatan untuk melihatNya.
6.      Keadilan
Antara al-Asy’ari dan Mu’tazilah pada dasarnya semua setuju bahwa Allah itu adil. Mereka berbeda dalam memandang keadilan. Al-Asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga Dia harus menyiksa orang yang salah dan member pahala kepada orang yang berbuat baik. Menurutnya, Allah tidak memiliki keharusan apapun karena ia adalah Penguasa Mutlak.
7.      Kedudukan orang yang berdosa
Al-Asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang di anut oleh Mu’tazilah. Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan dari kufr, predikat bagi seseorang haruslah salah satu diantaranya. Jika tidak mukmin, ia kafir. Oleh karena itu, Al-Asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin hilang karena dosa selain kufr[15].

2)      Doktrin Teologi Maturidiyah
1.      Akal dan wahyu
Dalam pemikiran teologinya, Al-Maturidi mendasarkan pada Al-Qur'an dan akal dalam bab ini ia sama dengan Al-asy’ari. Menurut Al-Maturidi, mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan dapat diketahui dengan akal. Kemampuan akal dalam mengetahui dua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akal dalam usaha memperoleh pengetahuan dan keimanannya terhadap Allah melalui pengamatan dan pemikiran yang mendalam tentang makhluk ciptaannya. Kalau akal tidak mempunyai kemampuan memperoleh pengetahuan tersebut, tentunya Allah tidak akan menyuruh manusia untuk melakukannya. Dan orang yang tidak mau menggunakan akal untuk memperoleh iman dan pengetahuan mengenai Allah berarti meninggalkan kewajiban yang diperintah ayat-ayat tersebut. Namun akal menurut Al-Maturidi, tidak mampu mengetahui kewajiban-kewajiban lainnya. Dalam masalah baik dan buruk, Al-Maturidi berpendapat bahwa penentu baik dan buruk sesuatu itu terletak pada suatu itu sendiri, sedangkan perintah atau larangan syari’ah hanyalah mengikuti ketentuan akal mengenai baik dan buruknya sesuatu. Dalam kondisi demikian, wahyu diperoleh untuk dijadikan sebagai pembimbing. Al-Maturidi membagi kaitan sesuatu dengan akal pada tiga macam, yaitu:
a.       Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebaikan sesuatu itu.
b.      Akal dengan sendirinya hanya mengetahui kebutuhan sesuatu itu.
c.       Akal tidak mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu, kecuali dengan petunjuk ajaran wahyu.
Jadi, yang baik itu baik karena diperintah Allah, dan yang buruk itu buruk karena larangan Allah. Pada konteks ini, Al-Maturidi berada pada posisi tengah dari Mu’tazilah dan Al-Asy’ari.
2.      Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan karena segala sesuatu dalam wujud ini adalah ciptaannya. Dalam hal ini, Al-Maturidi mempertemukan antara ikhtiar sebagai perbuatan manusia dan qudrat Tuhan sebagai pencipta perbuatan manusia. Dengan demikian tidak ada pertentangan antara qudrat tuhan yang menciptakan perbuatan manusia dan ikhtiar yang ada pada manusia. Kemudian karena daya di ciptakan dalam diri manusia dan perbuatan yang di lakukan adalah perbuatan manusia sendiri dalam arti yang sebenarnya, maka tentu daya itu juga daya manusia.
3.      Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan.
Menurut Al-Maturidi qudrat Tuhan tidak sewenang-wenang (absolut), tetapi perbuatan dan kehendaknya itu berlangsung sesuai dengan hikmah dan keadilan yang sudah ditetapkannya sendiri.
4.      Sifat Tuhan
Dalam hal ini faham Al-Maturidi cenderung mendekati faham mu’tzilah. Perbedaan keduanya terletak pada pengakuan Al-Maturidi tentang adanya sifat-sifat Tuhan, sedangkan mu’tazilah menolak adanya sifat-sifat Tuhan.
5.      Melihat Tuhan
Al-Maturidi mengatakan bahwa manusia dapat melihat Tuhan. Hal ini diberitahukan oleh Al-Qur'an, antara lain firman Allah dalam surat Al-Qiyamah ayat 22 dan 23. Namun melihat Tuhan, kelak di akherat tidak dalam bentuknya, karena keadaan di akherat tidak sama dengan keadaan di dunia.
6.      Kalam Tuhan
Al-Maturidi membedakan antara kalam yang tersusun dengan huruf dan bersuara dengan kalam nafsi (sabda yang sebenarnya atau kalam abstrak). Kalam nafsi adalah sifat qadim bagi Allah, sedangkan kalam yang tersusun dari huruf dan suara adalah baharu (hadist). Kalam nafsi tidak dapat kita ketahui hakikatnya bagaimana Allah bersifat dengannya (bila kaifa) tidak di ketahui, kecuali dengan suatu perantara.
7.      Perbuatan manusia
Menurut Al-Maturidi, tidak ada sesuatu yang terdapat dalam wujud ini, kecuali semuanya atas kehendak Tuhan, dan tidak ada yang memaksa atau membatasi kehendak Tuhan kecuali karena ada hikmah dan keadilan yang ditentukan oleh kehendak-Nya sendiri. Oleh karena itu, tuhan tidak wajib berbuat ash-shalah wa-al ashlah (yang baik dan terbaik bagi manusia). Setiap perbuatan tuhan yang bersifat mencipta atau kewajiban-kewajiban yang di bebankan kepada manusia tidak lepas dari hikmah dan keadilan yang di kehendaki-Nya. Kewajiban-kewajiban tersebut adalah :
a.       Tuhan tidak akan membebankan kewajiban-kewajiban kepada manusia di luar kemampuannya karena hal tersebut tidak sesuai dengan keadilan, dan manusia juga di beri kemerdekaan oleh tuhan dalam kemampuan dan perbuatannya.
b.      Hukuman atau ancaman dan janji terjadi karena merupakan tuntunan keadilan yang sudah di tetapkan-Nya.
8.      Pelaku dosa besar
Al-Maturidi berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidak kafir dan tidak kekal di dalam neraka walaupun ia mati sebelum bertobat. Hal ini karena tuhan sudah menjanjikan akan memberikan balasan kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. Kekal di dalam neraka adalah balasan untuk orang yang berbuat dosa syirik. Dengan demikian, berbuat dosa besar selain syirik tidak akan menyebabkan pelakunya kekal di dalam neraka. Oleh karena itu, perbuatan dosa besar (selain syirik) tidaklah menjadikan seseorang kafir atau murtad.
9.      Pengutusan Rasul
Pandangan Al-Maturidi tidak jauh beda dengan pandangan mu’tazilah yang berpendapat bahwa pengutusan Rasul ke tengah-tengah umatnya adalah kewajiban Tuhan agar manusia dapat berbuat baik dan terbaik dalam kehidupannya. Pengutusan rasul berfungsi sebagai sumber informasi. Tanpa mengikuti ajarannya wahyu yang di sampaikan rasul berarti manusia telah membebankan sesuatu yang berada di luar kemampuannya kepada akalnya.[16]


H.    Dalil Al-Qur’an Yang Menjadi Landasan Masing-Masing Al-Quran.
1.      Dalil al-Qur’an yang menjadi landasan aliran Asy’ariyah
 وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ ٩٦
96. Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu"
وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمٗا ٣٠
30. Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
إِنَّمَا قَوۡلُنَا لِشَيۡءٍ إِذَآ أَرَدۡنَٰهُ أَن نَّقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ ٤٠
40. Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.
2.      Dalil al-Quran yang menjadi landasan al-Maturidiah
وُجُوهٞ يَوۡمَئِذٖ نَّاضِرَةٌ ٢٢  إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٞ ٢٣
22. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri
23. Kepada Tuhannyalah mereka melihat



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Masa Salaf adalah masa Nabi, Sahabat dan Tabi’in disebut Al-Tsalatsah Al-Ula atau yang dikenal sebagai Al-Sabiqun Al-Awwalun. Tokoh aliran ahlussunnah salaf ialah Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taymiyyah. Ajaran pokok aliran ahlussunnah salaf adalah mendahulukan syara’ dari akal, meninggalkan takwil kalami, dan berpegang teguh pada nash Quran dan Hadis Nabi.
Ahlussunnah khalaf ialah suatu golongan dari umat islam yang meninggalkan jalannya salaf dalam memahami al-Quran dan hadist.Ulama Khalaf menggunakan pendekatan akal dan logika. Ulama khalaf memperkenalkan konsep ta’wil dalam ayat mutasyabihat. Tokoh aliran ahlussunnah khalaf adalah Al-Asy’ari dan Al-Maturidi.
Doktrin-doktrin aliran asy’ariyah :
a)      Allah dan sifat-sifatNya
b)      Kebebasan dalam berkehendak
c)      Qadimnya al-Quran
d)     Akal dan Wahyu serta Kriteria Baik dan Buruk
e)      Melihat Allah
f)       Keadilan
g)      Kedudukan orang yang berdosa
Doktrin-doktrin al-maturidiyah :
a)      Akal dan wahyu
b)      Perbuatan manusia
c)      Kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan.
d)     Sifat Tuhan
e)      Melihat Tuhan
f)       Kalam Tuhan
g)      Perbuatan manusia
h)      Pelaku dosa besar
i)        Pengutusan Rasul
B.     Saran
Sebagai penulis kami merasa masih ada kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Kami selaku penulis mengharapkan agar pembaca dapat memberikan saran yang bermanfaat dan menjadikan kami lebih baik lagi dalam menyusun makalah untuk kedepannya.




[1] M. Yunan Yusuf, Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam, ( Jakarta: Prenadamedia grup, 2014), hlm. 181-182.
[2] Ibid, hlm. 184-186.
[3] Abu Zakariya Sutrisno. Biografi Imam Hanbal. 2014.  www.ukhuwahislamiah.com
[4] M. Yunan Yusuf, Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam, (Jakarta: Prenadamedia grup, 2014), hlm. 188-191
[5] Ibid, hlm. 184-186
[6] Pengertian Ulama Salaf dan Khalaf. https://adjhis.wordpress.com/2013/09/25

[7] Makalah Ilmu Kalam Tentang Ahlussunnah salaf dan khalaf. https://coretanyessyazwarni.wordpress.com/2014/01/08/
[8] Pengertian Ulama Salaf dan Khalaf. https://wakidyusuf.wordpress.com/2017/07/31/

[9] Novan Ardy Wiyani, Ilmu Kalam, (
[10] M. Yunan Yusuf, Alam Pikiran Islam Pemikiran Kalam, ( Jakarta: Prenadamedia grup, 2014), hlm. 93-95

[11] Novan Ardy Wiyani, Ilmu Kalam, ( Bumiayu: Teras, 2013), hlm.159

[12] Novan Ardy Wiyani, Ilmu Kalam, ( Bumiayu: Teras, 2013), hlm.152-155

[14] Suryan A. Jamrah, Studi Ilmu Kalam, ( Jakarta: Katalog Dalm Terbitan, 2015), hlm.165-167
[15] Novan Ardy Wiyani, Ilmu Kalam, ( Bumiayu: Teras, 2013), hlm.155-158
[16] Suryan A. Jamrah, Studi Ilmu Kalam, ( Jakarta: Katalog Dalm Terbitan, 2015), hlm.165-168

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makalah Tauhid Ilmu kalam

Makalah Iman Kafir Nifaq Kufur

Makalah Aliran Syiah dan Mu'tazilah